PSG dan Luis Enrique: Perjalanan Menuju Kejayaan Baru

Pelatih PSG, Luis Enrique. Foto: via MetroSports

edisiana.com – Perjalanan Paris Saint-Germain menuju ambang kejayaan di final Liga Champions musim ini bermula dari sebuah pergeseran besar dalam identitas klub: berakhirnya era “bling-bling” yang telah lama melekat.

Simbol-simbol kejayaan instan dan budaya superstar kini tersapu, memberi jalan bagi visi baru yang dibangun atas dasar kolektivitas, kedisiplinan, dan kerja keras.

Di tengah perubahan itu berdirilah sosok Luis Enrique, pelatih yang datang dengan pendekatan berbeda. Setiap pagi, pria 55 tahun itu berjalan tanpa alas kaki di atas rumput di Kampus PSG—tempat latihan klub yang hanya berjarak 25 menit dari Parc des Princes. Ritualnya itu bukan hanya bentuk koneksi dengan alam, tapi juga cara untuk mengatasi alergi.

Namun, di mata para penggemar PSG yang sangat mendambakan trofi Liga Champions pertama mereka, jika Enrique berhasil membawa pulang gelar tersebut ke Paris, mereka akan percaya bahwa sang pelatih bahkan mampu berjalan di atas air.

Penunjukan Enrique pada Juli 2023 adalah sinyal tegas dari perubahan arah klub. PSG ingin meninggalkan budaya selebritas sepak bola yang selama ini mendominasi ruang ganti mereka. Bagi seorang pelatih yang menjunjung tinggi etika tim, ini adalah peluang untuk membentuk ulang identitas klub.

“PSG menginginkan seseorang yang bisa membangun masa depan dengan kesabaran,” ujar pengamat sepak bola Prancis, Julien Laurens seperti dilansir BBC pada hari ini.

“Luis Enrique adalah kandidat terbaik. Dia seperti Antonio Conte atau Jose Mourinho—seorang pemenang. Tapi berbeda dengan mereka, Enrique membangun sesuatu yang lebih dari sekadar kemenangan instan.”

Podium pujian juga datang dari Rai, mantan gelandang Brasil yang menjadi bagian dari tim PSG yang menjuarai Piala Winners 1996—satu-satunya gelar Eropa klub hingga kini.

“Yang paling mengesankan dari manajemen Luis Enrique adalah kemampuannya mencapai ini semua dalam waktu singkat dan dengan banyak pemain muda. Itu berarti para pemain memahami taktiknya, percaya padanya, dan sistemnya sangat efektif,” ujarnya.

Berbeda dari para pendahulunya seperti Unai Emery, Thomas Tuchel, Mauricio Pochettino, hingga Christophe Galtier, Enrique menuntut tingkat kontrol penuh atas tim.

“Luis Enrique adalah pemimpin klub,” tegas Laurens. “Sebelumnya, para bintang bisa melewati pelatih dan langsung ke presiden klub jika mereka tidak setuju. Sekarang, itu tidak terjadi lagi.”

Pierre-Etienne Minonzio, jurnalis sepak bola lainnya, menambahkan bahwa Enrique berhasil mengatasi persoalan otoritas yang selama ini menghantui PSG. “Galtier adalah pelatih yang bagus, tapi tidak cukup kuat untuk menantang pemain seperti Mbappe. Pochettino juga lebih fokus menjaga kedamaian ruang ganti daripada membuat keputusan besar,” katanya.

“Luis Enrique berbeda. Dia datang dan berkata, ‘Jika saya bos, maka saya akan menjadi bos.’ Sekarang, dia adalah representasi dari klub dan seluruh tim.”

Komitmen Enrique terhadap PSG bahkan menjalar ke hal-hal terkecil. Arlojinya diprogram untuk mengingatkan jika ia tak melakukan gerakan atau peregangan selama 30 menit.

Sebuah disiplin diri yang mencerminkan obsesinya terhadap perbaikan berkelanjutan—yang kini menjelma menjadi kekuatan pendorong klub dalam perjalanan mereka meraih trofi Liga Champions yang selama ini tak kunjung tergapai.(maq)

Exit mobile version