edisiana.com – Transformasi sepak bola Afrika dalam beberapa tahun terakhir berlangsung sangat cepat. Jika pada Piala Dunia 2018 di Rusia tidak satu pun dari lima wakil Afrika mampu menembus fase gugur, kini situasinya berbalik drastis.
Dari 10 negara Afrika yang tampil, sembilan berhasil lolos dari fase grup. Hanya Tunisia yang gagal melaju. Cape Verde, Mesir, Pantai Gading, Maroko, dan Afrika Selatan melangkah sebagai runner-up grup. Sementara Aljazair, Republik Demokratik Kongo, Ghana, dan Senegal mengamankan tiket melalui jalur peringkat ketiga terbaik.
Pencapaian tersebut berbanding terbalik dengan wakil Asia. Dari sembilan negara yang tampil, hanya Jepang dan Australia yang berhasil lolos ke fase gugur. Selebihnya harus angkat koper lebih awal.
Keberhasilan Afrika disebut sebagai buah dari pembinaan yang konsisten. Menukil BBC, Presiden Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF), Patrice Motsepe, menyatakan peningkatan prestasi tersebut merupakan hasil investasi jangka panjang dalam pengembangan pemain usia muda, peningkatan kualitas pelatih, serta kompetisi liga profesional di berbagai negara Afrika.
Data komposisi pemain turut memperkuat klaim tersebut. Maroko, misalnya, memiliki 20 dari 26 pemain yang berkarier di Eropa. Bahkan, 15 di antaranya bermain di lima liga top Eropa.
Republik Demokratik Kongo yang lolos melalui babak play-off antar-konfederasi juga mengandalkan kekuatan pemain diaspora. Sebanyak 24 pemain mereka bermain di klub-klub Eropa, meski hanya 11 yang tampil di liga utama.
Mesir menjadi pengecualian. Sebagian besar kekuatan mereka masih berasal dari kompetisi domestik dengan 17 pemain bermain di liga lokal, sedangkan enam lainnya berkarier di Eropa.
Sebaliknya, negara-negara Asia di luar kekuatan tradisional masih minim pemain yang merumput di kompetisi elite Eropa. Jordania hanya memiliki satu pemain di Eropa, yakni striker Musa Al-Taamari yang memperkuat klub Prancis, Rennes.
Irak dan Uzbekistan masing-masing hanya memiliki tiga pemain di Eropa, sedangkan Iran memiliki empat. Angka tersebut masih jauh di bawah negara-negara terbaik Asia. Jepang memiliki 23 pemain yang berkarier di Eropa, Australia 16 pemain, dan Korea Selatan 15 pemain.
Dominasi Afrika pada edisi kali ini menjadi bukti bahwa investasi jangka panjang dalam pembinaan sepak bola mulai membuahkan hasil. Sebaliknya, kegagalan mayoritas wakil Asia menjadi pekerjaan rumah besar untuk mengejar ketertinggalan di level dunia.(maq)
