Kisah Manajer Brighton: Dua Gurunya Pun Dikalahkan

Fabian Huerzeler ditunjuk sebagai manajer baru Brighton. Foto: via BBC

edisiana.com – Manajer Brighton, Fabian Huerzeler lagi naik daun. Berhasil membawa klubnya keenam besar Liga Inggris. Bahkan dua gurunya Erik Ten Hag dan Ange Postecoglou dikalahkan.

Usia Fabian Huerzeler masih enam tahun. Kala menonton Manchester United dikalahkan Bayern Munich di final Liga Champions 1999 dari tempat tidur.

Kenangan itu menjadi awal dia tahu sepakbola. “Ayah saya mengira saya sedang tidur, tetapi tentu saja mata saya sedikit terbuka,” kenang Huerzeler yang sekarang manajer Brighton seperti dilansir Daily Mail pada hari ini.

Huerzeler kemudian dilatih oleh manajer United saat ini Erik ten Hag di tim kedua Bayern Munich. Tapi akhirnya hijrah ke klub lain. Dan terakhir bermain di FC Pipinsried kemudian jadi pelatih.

Tapi nasibnya baik pelatih kelahiran Houston, Amerika Serikat itu. Ditarikan menjadi manajer Brighton menggantikan Roberto De Zerbi.

Nah,  pada bulan Agustus, Huerzeler dan Ten Hag berdiri berdampingan di pinggir lapangan dalam Liga Premier dan Brighton menang.

Huerzeler yang yang saat itu menjadi manajer St Pauli di divisi kedua Jerman sempat mengunjungi Ange Postecoglou di  Tottenham untuk meminta masukannya.

Brighton tampil bagus dengan manajer baru, Fabian Huerzeler.

“Dia mengajukan banyak sekali pertanyaan dan saya memberinya terlalu banyak jawaban, ” kata Postecoglou sambil tersenyum.

Awal bulan ini, Huerzeler dan Postecoglou juga saling berhadapan di Liga Premier. Dan, sekali lagi, Brighton pun menang.

Huerzeler bisa dikatakan cukup berhasil untuk sementara ini di Liga Inggris. Bila dibandingkan dua gurunya tadi Erik Ten Hag dan Ange Postecoglou.

“Saya hanya seorang pelatih di divisi kedua. Saya tidak pernah menyangka akan menjadi lawan di liga ini,” ucapnya.

“Saya tidak lama menjadi pemain di bawah asuhan Erik ten Hag, tetapi tentu saja saya  merasakan sedikit ide-idenya dan hal yang sama terjadi pada Ange,” tuturnya.

“Namun, itulah hidup dan tidak dapat tahu merencanakan hidup. Saya selalu berkata bahwa Tuhan memberi kita dua telinga dan satu mulut, jadi lebih baik kita lebih banyak mendengar daripada hanya berbicara,” terangnya.

Saat ini Huerzeler merupakan manajer permanen termuda dalam sejarah Liga Primer. Lebih jauh muda dari pemainnya James Milner yang berusia 38 tahun.

Tapi berhasil membawa klubnya Brighton di Liga Inggris. The Seagulls sekarang berada di posisi keenam dengan memperoleh 12 poin dalam tujuh pertandingan.

“Saya lebih memahami mereka. Saya seusia mereka, jadi saya pikir terkadang kita memiliki kebutuhan yang sama. Kita berada dalam situasi yang sama. Mungkin kita kehilangan pacar,” jelasnya.(maq)

Exit mobile version