Mengenang Keajaiban Seoul, Senegal Mengincar Kejutan Baru di East Rutherford

Mane mencetak gol untuk Senegal. Foto: via BBC

edisiana.com – Senegal akan menguji kekuatan Prancis dalam laga pembuka Grup I yang berlangsung Selasa malam di East Rutherford. Namun bagi pelatih Singa Teranga, Pape Thiaw, duel ini lebih dari sekadar pertandingan biasa.

Ada kenangan yang sulit dilupakan. Tepat 24 tahun lalu di Seoul, Thiaw menjadi bagian dari skuad Senegal yang mengguncang dunia dengan menumbangkan Les Bleus pada laga pembuka Piala Dunia 2002.

Meski hanya menyaksikan dari bangku cadangan, ia menjadi saksi langsung salah satu kejutan terbesar dalam sejarah turnamen tersebut.

Saat itu, melansir Sport Mole menyebutkan Senegal menang 1-0 berkat gol tunggal mendiang Papa Bouba Diop, sebuah malam yang hingga kini masih dikenang sebagai simbol keberanian dan keajaiban sepak bola Afrika.

Kini, Thiaw kembali berhadapan dengan Prancis, kali ini sebagai arsitek tim. Ia berharap semangat yang sama bisa menginspirasi generasi baru Singa Teranga untuk menciptakan kisah besar lainnya.

Senegal datang dengan status yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Mereka merupakan juara Afrika dan terus menunjukkan konsistensi sejak menaklukkan Maroko di final Piala Afrika.

Setelah kesuksesan tersebut, Senegal juga mencatat kemenangan meyakinkan dalam laga persahabatan melawan Peru dan Gambia.

Namun perjalanan menuju East Rutherford tidak sepenuhnya mulus. Persiapan mereka sempat terganggu setelah menelan kekalahan 3-2 dari tuan rumah bersama, Amerika Serikat. Hasil itu kemudian diikuti dengan pertandingan tanpa gol melawan Arab Saudi.

Meski demikian, ada satu catatan yang tetap memberi optimisme. Hasil imbang kontra Arab Saudi memang mengakhiri rentetan 17 pertandingan Senegal tanpa kebobolan di semua kompetisi, tetapi sekaligus menjadi clean sheet kelima mereka dalam tujuh laga terakhir.

Kini tantangan terbesar menanti. Di seberang lapangan berdiri pasukan Didier Deschamps, salah satu favorit turnamen. Namun sejarah telah membuktikan bahwa Senegal tidak pernah gentar menghadapi Prancis.

Dan bagi Pape Thiaw, East Rutherford bisa menjadi panggung untuk menghidupkan kembali kenangan indah dari Seoul—sebuah malam ketika Singa Teranga membuat dunia terdiam.(maq)

Exit mobile version