edisiana.com – Kebangkitan luar biasa klub Italia, Como 1907, menjadi sorotan utama jelang musim baru Serie-A. Dari nyaris bangkrut pada 2016, kini klub asal Lombardia itu kembali ke jajaran elite sepak bola Italia — berkat investasi serius keluarga miliarder Indonesia Hartono dan kepemimpinan visioner Cesc Fàbregas.
Didukung oleh Djarum Group, perusahaan milik keluarga Hartono yang bermarkas di London dan masuk dalam daftar 100 orang terkaya dunia versi Forbes, Como berhasil menyelamatkan diri dari kehancuran dan melaju jauh lebih cepat dari yang diperkirakan. Kini, mereka tak hanya berbicara soal bertahan di Serie-A, tapi juga bermimpi bermain di kancah Eropa.
Sejumlah proyek ambisius sedang dijalankan. Renovasi Stadio Comunale G. Sinigaglia dan pembangunan kota olahraga baru adalah bagian dari upaya membangun identitas dan merek klub yang kuat. “Tujuan kami bukan semata uang,” tulis Mundo Deportivo dalam laporannya.
Belanja Besar, Komitmen Serius
Dalam bursa transfer musim panas ini, Como melakukan perombakan besar dengan melepas 15 pemain dan mendatangkan 9 nama baru. Total investasi mencapai 104 juta euro, termasuk:
- Jesús Rodríguez (Real Betis) – €22,5 juta
- Nicolas Kühn (Celtic) – €19 juta
- Martin Baturina (Dinamo Zagreb) – €18 juta
- Jayden Addai (AZ Alkmaar) – €14 juta
- Máximo Perrone (Manchester City) – €13 juta
- Álex Valle (Barcelona) – €6 juta
- Ignace van der Brempt (Salzburg) – €5 juta
- Jacobo Ramón (Real Madrid) – €2 juta
- Fellipe Jack (Palmeiras) – €2 juta
Dalam laga uji coba terakhir menghadapi Ajax yang berakhir dengan kemenangan telak 3-0, Fàbregas menurunkan beberapa dari pemain baru ini sebagai starter, menunjukkan betapa cepat mereka beradaptasi.
Cesc, Pilar Proyek Como
Meski bukan pemain lagi, kehadiran Cesc Fàbregas sebagai pelatih menjadi rekrutan terpenting klub. Mantan gelandang Arsenal dan Barcelona itu menolak tawaran dari klub-klub besar seperti Inter Milan, AS Roma, Bayer Leverkusen, dan RB Leipzig, demi tetap mengawal proyek jangka panjang di Como.
“Dia percaya ini adalah tempat dan waktu yang tepat untuk memulai karier manajerialnya,” tulis Mundo Deportivo.
Fàbregas membangun tim yang seimbang antara pemain muda bertalenta dan sosok berpengalaman seperti Sergi Roberto. Ia juga mempertahankan Nico Paz, yang klausul pembeliannya ingin dilucuti Real Madrid. Termasuk mengaktifkan klausul pelepasan sebesar €6 juta untuk Álex Valle, yang tidak masuk rencana pelatih baru Barcelona, Hansi Flick.
Formasi Agresif dan Hasil Meyakinkan
Como kini mengandalkan formasi 4-3-3 dengan gaya bermain sederhana namun efektif. Dalam tiga laga uji coba terakhir, mereka mengalahkan:
- Lille (3-2)
- Al Ahli (3-1)
- Ajax Amsterdam (3-0)
Taktik Fàbregas menunjukkan hasil nyata dan membuat Como dijuluki sebagai “proyek keajaiban” dalam sepak bola Eropa.
Tantangan Perdana: Joan Gamper Trophy
Sebelum pembuka musim, Como akan menghadapi ujian besar dalam laga Joan Gamper Trophy melawan FC Barcelona pada 10 Agustus. Sebuah laga simbolis, mengingat sejarah panjang Fàbregas bersama klub Katalan tersebut.(maq)










