edisiana.com – Badai dari Lingkaran Arktik kembali memakan korban. Setelah Manchester City, kini Atlético Madrid yang merasakan dinginnya keganasan Bodø/Glimt.
Skor akhir 1-2, sebuah malam Eropa yang menyakitkan bagi pasukan Diego Simeone—meski pada akhirnya keduanya tetap melaju ke babak play-off fase gugur Liga Champions.
Atlético sempat bernapas lega lebih dulu. Umpan silang David Hancko jatuh sempurna di kepala Alexander Sørloth, dan striker Norwegia itu menanduk bola ke gawang. Metropolitano bergemuruh. Dominasi seolah milik tuan rumah.
Peluang demi peluang datang. Pablo Barrios hampir menggandakan keunggulan, namun Nikita Haikin tampil sebagai tembok es yang tak runtuh.
Sundulan Nico González berikutnya pun melayang sia-sia. Atlético menekan, tapi Glimt bertahan dengan kepala dingin.
Dan seperti kisah klasik Liga Champions, hukuman datang tepat waktu. Sepuluh menit sebelum jeda, Fredrik Sjovold menyamakan kedudukan. Sunyi seketika. Glimt hidup, Atlético terguncang.
Babak kedua berubah menjadi duel ketegangan. Haikin kembali menggagalkan sundulan Nico González, sementara Julián Álvarez hanya bisa menghela napas saat tandukannya melenceng. Malam itu terasa panjang bagi Atleti.
Gol penentu lahir dari kekacauan total di depan gawang. Høgh—nama panas yang diincar Celtic dan Norwich—melepas tembakan pertama yang masih bisa dibendung Jan Oblak. Tapi bola liar tak pernah berbohong.
Pertahanan Atlético gagal menyapu, dan Høgh kembali menyambar. Gol. Kejatuhan. Sejarah. Glimt menang. Kemenangan bersejarah lainnya.
Melansir ESPN, petualangan mereka di Liga Champions terus berlanjut, sementara Atlético harus menelan pil pahit—tersungkur di kandang sendiri.
Namun tetap melangkah ke babak berikutnya. Liga Champions selalu punya satu hukum: siapa lengah, dia tumbang.(maq)










