edisiana.com – Newcastle United kembali menulis bab tragedi mereka sendiri di Eropa. Sama, persis sama: menit-menit akhir, kepanikan, dan sebuah gol yang menusuk seperti belati.
Di BayArena yang menggelegar, Alex Grimaldo tampil sebagai penyelamat last minute Bayer Leverkusen dengan sebuah penyelesaian pada menit ke-88 yang meruntuhkan kerja keras The Magpies.
Adegan setelah gol? Dramatis.
Aaron Ramsdale mengangkat tangan ke udara, marah sekaligus putus asa.
Malick Thiaw membanting rumput seakan ingin menelan lapangan.
Dan Burn dan Jacob Murphy hanya bisa menutupi kepala mereka—tidak percaya bahwa mimpi buruk yang sama datang lagi.
Newcastle sebenarnya sudah menunjukkan karakter besar. Setelah tertinggal lebih dulu akibat gol bunuh diri Bruno Guimarães di menit ke-13, mereka bangkit penuh determinasi.
Anthony Gordon menyamakan kedudukan lewat penalti di menit ke-51, kemudian memanjakan Lewis Miley dengan umpan matang.
Pemain 19 tahun itu menyundul bola menjadi gol perdananya di Liga Champions—momen yang seharusnya menjadi cerita malam itu.
Tapi seperti yang sering terjadi dalam drama Eropa… cerita itu berubah arah.
Leverkusen merangkai serangan apik, menusuk pertahanan Newcastle, dan Grimaldo—dingin.
Klinis—mengakhiri semuanya dengan gol penyama kedudukan yang terasa seperti pukulan ke perut The Magpies.
Menukil BBC, hasil imbang yang pahit ini menahan Newcastle di posisi ke-12, dua poin dari zona delapan besar. Leverkusen? Mereka tetap terpaku di posisi ke-20, tetapi dengan senyum puas berkat penyelamatan menit akhir.
Drama, emosi, dan luka lama Newcastle yang kembali terbuka—sebuah malam klasik ala Liga Champions dengan aroma tragis untuk The Magpies.(maq)











