Bola  

Michael Oliver Terancam Gagal Pimpin Final Piala Dunia, Inggris atau Argentina Jadi Penghalang

Michael Oliver, wasit dari Inggris terancam tidak bisa memimpin pertandingan final Piala Dunia. Foto: via Daily Express

edisiana.com – Peluang wasit asal Inggris, Michael Oliver, untuk memimpin laga final Piala Dunia terancam pupus apabila Inggris atau Argentina berhasil melangkah ke partai puncak.

Inggris masih menjaga asa setelah kembali menembus babak perempat final untuk ketiga kalinya secara beruntun. Sementara itu, Argentina juga terus melaju dengan Lionel Messi sebagai motor permainan, sehingga peluang Albiceleste mempertahankan persaingan menuju gelar juara tetap terbuka.

Namun, keberhasilan salah satu dari dua negara tersebut mencapai final justru menjadi kabar buruk bagi Oliver. Wasit asal Northumberland itu disebut-sebut sebagai salah satu kandidat kuat untuk memimpin laga final yang akan digelar di New Jersey pada akhir bulan ini.

BACA JUGA:  Skotlandia Dipermalukan Islandia 3-1 Jelang Piala Dunia

Melansir Daily Express menyebutkan jika Inggris lolos ke final, Oliver otomatis tidak dapat ditunjuk karena adanya konflik kepentingan sebagai wasit yang berasal dari negara yang sama.

Sementara itu, situasi terkait Argentina sedikit lebih kompleks. FIFA memiliki aturan yang melarang wasit memimpin pertandingan yang melibatkan negara dengan sensitivitas politik tertentu. Aturan tersebut berlaku bagi laga yang melibatkan Argentina dan Inggris.

BACA JUGA:  Duel Taktik Anak Didik Pep Guardiola: Enzo Maresca Unggul dari Luis Enrique

Larangan itu berkaitan dengan sengketa Kepulauan Falkland yang memicu perang antara Inggris dan Argentina pada 1982. Hingga kini, status wilayah tersebut masih menjadi sengketa kedua negara.

Demi menjaga netralitas dan menghindari potensi konflik kepentingan, FIFA tidak akan menugaskan Oliver memimpin pertandingan yang melibatkan Argentina.

Kasus serupa pernah dialami rekan senegaranya, Anthony Taylor, pada Piala Dunia 2022. Saat itu, Taylor tidak diizinkan memimpin final antara Argentina dan Prancis karena pertimbangan yang sama.(maq)