edisiana.com – Kylian Mbappé angkat suara. Kekalahan Real Madrid di kandang Benfica bukan soal kualitas, bukan pula soal papan taktik. Bintang Prancis itu tegas: Madrid kalah karena kurang lapar.
“Ini bukan tentang kualitas, dan ini bukan tentang taktik. Ini tentang memiliki keinginan yang lebih besar,” tegas Mbappé, dikutip dari ESPN, Kamis ini.
Di Estádio da Luz, segalanya terasa dipertaruhkan bagi Benfica. Atmosfernya panas, tekanannya nyata. Tapi Madrid? Terlihat dingin. Terlalu dingin.
“Semua dipertaruhkan bagi Benfica, dan Anda tidak bisa melihat hal itu pada kami. Dan itu adalah masalahnya,” lanjut Mbappé tanpa basa-basi.
Padahal sebelum laga, kedua tim sama-sama berada di bawah tekanan besar. Madrid wajib menang demi mengamankan tiket ke delapan besar. Benfica, di sisi lain, berjuang bertahan di zona 24 besar. Namun hanya satu tim yang benar-benar bertarung seperti hidup-mati.
Musim Madrid sendiri berjalan penuh turbulensi. Awal bulan ini, Xabi Alonso harus angkat kaki, meninggalkan tim dalam situasi rapuh.
Di bawah Álvaro Arbeloa, tanda-tanda kebangkitan mulai terlihat. Kemenangan 2-0 atas Villarreal di LaLiga akhir pekan lalu menjadi secercah harapan.
Namun di Lisbon, semuanya runtuh lagi. “Permainan kami melawan Benfica tidak sama seperti saat melawan Villarreal. Dan itu masalahnya,” ujar Mbappé.
“Kami tidak konsisten. Tim juara tidak bisa bermain bagus satu hari, lalu menghilang di hari berikutnya.”
Madrid kini terjebak dalam lingkaran inkonsistensi yang berbahaya. Alih-alih punya waktu bernapas dan memperbaiki diri di bulan Februari, mereka justru dipaksa masuk jalur berbahaya.
“Kami masih punya dua pertandingan lagi. Itu menyakitkan. Kami ingin waktu untuk berkembang, tapi sekarang kami harus langsung ke babak playoff,” tutup Mbappé.
Fakta pahitnya: Real Madrid sudah kalah tiga kali dari delapan laga fase liga musim ini — melawan Liverpool, Manchester City, dan kini Benfica.(maq)
