Bola  

AC Milan Meledak: Allegri Dipecat  Rossoneri

Allegri mengarahkan pemain AC Milan dari tepi lapangan. Foto: via BBC

edisiana.com – Gempa besar mengguncang AC Milan. Klub bersejarah Italia itu resmi mengakhiri kerja sama dengan Massimiliano Allegri setelah musim yang dianggap sebagai kegagalan total oleh manajemen klub.

Kekalahan 2-1 dari Cagliari pada giornata terakhir Serie A menjadi pukulan telak yang menjatuhkan Rossoneri dari posisi ketiga ke peringkat kelima klasemen.

Akibatnya, Milan kembali gagal mengamankan tiket ke Liga Champions untuk musim kedua secara beruntun.

Ironisnya, tempat di kompetisi elite Eropa justru diamankan oleh Inter Milan, Napoli, AS Roma, dan kejutan terbesar musim ini, Como, yang untuk pertama kalinya dalam sejarah mereka akan tampil di Liga Champions. Sementara itu, Milan harus puas turun kasta ke Liga Europa bersama Juventus.

Dalam pernyataan resminya, klub tidak menyembunyikan rasa kecewa mereka.
“Sepanjang sebagian besar musim ini, kami berada di dua posisi teratas Serie A dan memiliki peluang besar bersaing untuk Scudetto,” demikian pernyataan AC Milan dinukil dari BBC pada hari ini.

Namun semuanya runtuh di fase akhir musim. “Performa di akhir musim benar-benar tidak konsisten. Kekalahan-kekalahan mengecewakan dan hasil buruk pada laga terakhir menjadikan musim ini sebagai kegagalan total.”

Pernyataan itu menjadi sinyal jelas bahwa revolusi besar akan dimulai di San Siro.

“Sekarang adalah waktunya untuk perubahan dan reorganisasi menyeluruh dalam operasional sepak bola,” lanjut pernyataan klub.

Tak hanya Allegri yang menjadi korban. CEO Giorgio Furlani, direktur olahraga Igli Tare, dan direktur teknik Geoffrey Moncada juga meninggalkan klub dalam restrukturisasi besar-besaran tersebut.

Allegri sendiri baru kembali menangani Milan pada Mei tahun lalu untuk periode keduanya bersama Rossoneri, menggantikan Sergio Conceicao.

Pada periode pertamanya, ia sempat membawa Milan meraih Scudetto musim 2010-11 dan Piala Super Italia semusim kemudian.

Namun romantisme masa lalu tidak cukup menyelamatkannya kali ini. Milan menutup musim dengan tujuh kekalahan dari 13 laga terakhir — statistik yang menjadi simbol runtuhnya proyek mereka.

Sementara Rossoneri terpuruk, rival sekota mereka, Inter, justru kembali berpesta setelah merebut Scudetto kedua dalam tiga musim terakhir.(maq)

Exit mobile version