edisiana.com – Bayer Leverkusen melangkah pasti ke babak 16 besar Liga Champions, menyusul rival domestik mereka, Bayern Munich. Tanpa perlu pesta gol, wakil Bundesliga itu menuntaskan tugas dengan kedewasaan.Hasil imbang 0-0 kontra Olympiakos di BayArena, Selasa malam, sudah lebih dari cukup.
Modal kemenangan 2-0 dari leg pertama menjadi fondasi kokoh. Dua gol dari Patrik Schick di Yunani enam hari lalu menjadi pembeda — dan pada akhirnya, penentu takdir.
Dominasi Tanpa Hadiah Gol
Sejak peluit pertama, Leverkusen tampil seperti tuan rumah sejati. Intensitas tinggi, sirkulasi bola cepat, dan tekanan konstan membuat Olympiakos lebih banyak bertahan.
Peluang pertama hadir hanya dalam empat menit. Umpan silang Alejandro Grimaldo mengarah tepat ke kepala Schick — tetapi sundulannya melebar tipis. Sinyal ancaman sudah dikirim.
Memasuki pertengahan babak kedua, BayArena nyaris bergemuruh. Grimaldo melepaskan tembakan keras yang menghantam mistar gawang. Stadion terdiam sesaat sebelum kembali memberi tepuk tangan apresiasi.
Schick kembali mendapatkan kesempatan emas. Melihat kiper Konstantinos Tzolakis maju, striker asal Ceko itu mencoba melakukan chip cerdik. Namun eksekusinya tak sempurna. Bola melayang terlalu tinggi.
Gagal mencetak gol untuk kedua kalinya musim ini melawan Olympiakos? Tidak masalah.
Leverkusen sudah menyelesaikan pekerjaan mereka di leg pertama. Dua gol Schick di Yunani menjadi pembeda mutlak. Kini, klub Jerman itu kembali menjejak babak 16 besar untuk kedua kalinya sejak musim 2016/17.
Melansir BBC, tim besutan Kasper Hjulmand menunjukkan kedewasaan taktis. Mereka tak terburu-buru, tak panik, dan tak kehilangan kontrol.
Dalam sepak bola Eropa, terkadang yang terpenting bukanlah mencetak gol — melainkan tahu kapan harus mengunci kemenangan.
Leverkusen melaju. Tanpa drama. Tanpa gol. Tapi dengan keyakinan penuh.(maq)











