edisiana.com – Langit sepak bola Curaçao mendadak berawan. Di saat mimpi sedang terasa paling nyata, sang arsitek justru memilih menepi.
Dick Advocaat resmi mengundurkan diri dari kursi pelatih Curaçao, hanya beberapa pekan sebelum laga persahabatan pemanasan Piala Dunia melawan Scotland pada 30 Mei.
Keputusan itu bukan soal taktik, bukan pula soal tekanan. Ini tentang keluarga.
Pelatih berusia 78 tahun tersebut mengakhiri kisahnya bersama tim pulau
Karibia setelah mengukir sejarah: membawa Curaçao melaju ke putaran final Piala Dunia untuk pertama kalinya. Sebuah pencapaian yang ia sendiri sebut sebagai yang “paling gila” sepanjang hampir empat dekade karier kepelatihannya.
Namun pada hari Senin, kabar itu datang seperti petir di siang bolong. Advocaat memilih mundur karena kondisi kesehatan putrinya.
“Saya selalu mengatakan keluarga lebih penting daripada sepak bola. Jadi ini adalah keputusan yang sudah jelas,” ujarnya, seperti dikutip dari BBC pada hari ini.
Seandainya tetap bertahan, Advocaat akan mencatatkan namanya sebagai pelatih tertua dalam sejarah putaran final Piala Dunia.
Usia 78 tahun bukan penghalang baginya untuk menorehkan bab baru dalam karier panjang yang telah membawanya melatih klub dan tim nasional elite Eropa.
Ia datang ke Curaçao bukan dengan sorotan besar, melainkan dengan ambisi sunyi.
Negara berpenduduk sekitar 150.000 jiwa itu menjelma menjadi kisah romantis sepak bola internasional — tim kecil dengan mimpi raksasa.
Dan di balik mimpi itu, berdiri sosok veteran Belanda yang tak pernah kehilangan api kompetitifnya.
Rutten, Babak Baru Dimulai
Tongkat estafet kini berpindah tangan. Sesama warga Belanda, Fred Rutten, ditunjuk untuk mengambil alih tim dan memimpin persiapan menuju duel melawan Skotlandia.
Rutten bukan nama asing di dunia kepelatihan Eropa. Tantangannya kini jelas: menjaga bara semangat yang ditinggalkan Advocaat dan memastikan Curaçao tetap melangkah dengan kepala tegak menuju panggung terbesar sepak bola dunia.
Di negeri kecil yang sedang bermimpi besar, perubahan datang lebih cepat dari yang diharapkan.
Namun satu hal tetap sama — Piala Dunia menanti, dan Curaçao tak berniat berhenti menulis sejarah.(maq)
