edisiana.com – Media Inggris melaporkan kisah luar biasa seorang wanita bernama Brianna Lafferty, yang sempat dinyatakan meninggal dunia selama delapan menit. Pengalaman tersebut membawanya pada pemahaman mendalam tentang hidup dan keberadaan.
“Tiba-tiba saya terpisah dari tubuh fisik saya. Saya tidak melihat atau mengingat jati diri saya sebagai manusia. Saya benar-benar diam, tetapi saya merasa sepenuhnya hidup, sadar, dan lebih menjadi diri saya sendiri daripada sebelumnya. Tidak ada rasa sakit, hanya rasa damai dan kejelasan yang mendalam,” ungkap Brianna, seperti dilansir Mirror pada Jumat, 23 Mei 2025.
Ia melanjutkan, “Keterpisahan dari bentuk fisik ini membuatku menyadari betapa sementara dan rapuhnya pengalaman manusiawi kita. Ada kehadiran, atau kecerdasan, yang lebih tinggi dari diri kita sendiri yang membimbing dan mengawasi kita dengan cinta tanpa syarat. Segala sesuatu terjadi sekaligus di sana, seolah-olah waktu tidak ada, namun ada tatanan yang sempurna.”
Brianna, wanita berusia 33 tahun ini, diketahui menderita distonia mioklonus — sebuah kondisi neurologis langka yang menyebabkan kontraksi dan sentakan otot secara tiba-tiba dan singkat.
Ia telah mengonsumsi semua obat yang tersedia dan tidak menyadari seberapa parah kondisinya, maupun kemungkinan fatal yang menyertainya.
Setelah mengalami insomnia ekstrem hingga tidak dapat tidur lebih dari satu menit selama empat hari berturut-turut, Brianna merasa ajalnya sudah dekat.
Saat dinyatakan meninggal selama delapan menit, Brianna mengaku mengalami dimensi lain yang baginya terasa berlangsung selama berbulan-bulan.
“Saya merasa berdaya dan percaya pada kejadian-kejadian dalam hidup, terutama yang sulit. Kalau dipikir-pikir, semuanya menjadi sangat jelas—mengapa saya menderita penyakit dan perjuangan berat lainnya,” katanya.
“Ada pengetahuan bahwa segala sesuatu benar-benar terjadi karena suatu alasan. Saya belajar untuk mengikuti arus dan tidak lagi marah atau kecewa ketika hal buruk menimpa. Mengetahui bahwa pikiran dan perasaan saya memiliki kekuatan besar membantu saya menjalani hidup dengan rasa syukur yang lebih dalam.”(maq)
