edisiana.com – Terminal Peti Kemas (TPK) Batu Ampar terus bertransformasi menjadi gerbang logistik berstandar internasional. Modernisasi terminal yang dikelola PT Batam Terminal Petikemas (BTP) sebagai mitra kerja sama BP Batam bersama PT Batu Ampar Container Terminal (BACT) itu berhasil mendongkrak produktivitas operasional sekaligus memperkuat konektivitas pelayaran global dari Batam.
Transformasi tersebut didukung investasi sekitar USD 85 juta yang difokuskan untuk pembaruan alat bongkar muat, perluasan lapangan penumpukan peti kemas (container yard), peningkatan kapasitas terminal, serta digitalisasi layanan kepelabuhanan guna menciptakan operasional yang lebih efisien.
Anggota/Deputi Bidang Pengusahaan BP Batam, Denny Tondano, mengatakan pengembangan TPK Batu Ampar merupakan bagian dari strategi besar BP Batam dalam membangun ekosistem logistik yang kompetitif di kawasan Asia Tenggara.
“Sejalan dengan arahan Kepala BP Batam Amsakar Achmad dan Wakil Kepala BP Batam Li Claudia Chandra, pengembangan TPK Batu Ampar akan terus diakselerasi sebagai komitmen mewujudkan sistem logistik yang modern dan efisien, sekaligus meningkatkan daya saing Batam sebagai kawasan perdagangan bebas, industri, dan tujuan investasi utama,” ujar Denny.
Hasil transformasi itu terlihat dari peningkatan sejumlah indikator operasional. Produktivitas bongkar muat peti kemas (Container Handling Productivity) meningkat dari 18 box crane per hour (BCH) menjadi 24 BCH atau naik 33 persen.
Kinerja penanganan kapal (Ship Handling Productivity) bahkan melonjak lebih dari tiga kali lipat, dari 12 box ship per hour (BSH) menjadi 40 BSH.
Peningkatan kinerja alat dan sistem juga berdampak pada efisiensi waktu pelayanan kapal. Vessel Turnaround Time atau waktu putar kapal berhasil dipangkas hingga 65 persen, dari rata-rata 20 jam menjadi hanya tujuh jam. Sementara itu, Waiting Time turun 57 persen dari 1,4 jam menjadi 0,6 jam.
Performa operasional yang semakin baik turut mendorong pertumbuhan arus peti kemas. Selama periode Januari hingga Mei 2026, TPK Batu Ampar membukukan volume bongkar muat sebanyak 221.183 TEUs.
Dari jumlah tersebut, aktivitas ekspor mencapai 71.930 TEUs atau sekitar 32,5 persen, mencerminkan meningkatnya aktivitas manufaktur dan perdagangan di Batam.
Di sisi lain, kualitas layanan pelabuhan juga diperkuat melalui peningkatan konektivitas pelayaran internasional dengan skema direct call. Frekuensi layanan kapal berkapasitas 1.200-2.000 TEUs meningkat dari enam hingga tujuh kali menjadi 10-13 kali setiap bulan.
Terminal juga secara rutin melayani kapal berkapasitas 1.000-1.900 TEUs sebanyak dua kali setiap bulan, serta kapal berkapasitas 1.000 TEUs sebanyak satu hingga dua kali per bulan.
Penguatan jaringan pelayaran langsung tersebut memberikan keuntungan bagi pelaku usaha. Biaya pengiriman rute Batam-Shanghai kini turun menjadi sekitar USD 650-800 per kontainer 20 kaki, jauh lebih rendah dibandingkan skema sebelumnya melalui feeder dan transshipment di Singapura yang mencapai USD 950-1.100 per kontainer.
Dengan skema direct call, pelaku usaha berpotensi menghemat biaya logistik hingga USD 300 per kontainer atau sekitar 30-50 persen. Waktu pengiriman juga lebih singkat, yakni sekitar delapan hari.
Efisiensi juga dirasakan perusahaan pelayaran. Pengurangan waktu sandar hingga 17 jam per kapal mampu menekan biaya operasional armada sekitar USD 3.800 setiap kunjungan kapal.
Selain pembenahan infrastruktur, BP Batam bersama pengelola terminal juga tengah menyiapkan implementasi sistem Direct Billing. Sistem pembayaran secara real-time tersebut memungkinkan pengguna jasa membayar langsung kepada pengelola terminal tanpa melalui pihak ketiga.
Penerapan sistem itu diharapkan dapat memangkas birokrasi, meningkatkan transparansi, mempercepat proses administrasi, sekaligus menurunkan dwelling time atau waktu inap barang di pelabuhan.
Direktur Badan Pengelolaan dan Pengusahaan Kepelabuhanan BP Batam, Benny Syahroni, menilai capaian tersebut menunjukkan pengembangan TPK Batu Ampar berjalan sesuai target.
“Ke depan, BP Batam berkomitmen memperbesar kapasitas tampung terminal agar dapat merespons pertumbuhan arus barang global dan memperkokoh posisi Batam sebagai hub logistik regional,” katanya.
Sementara itu, Direktur PT Batam Terminal Petikemas, Capt. Basori Alwi, menegaskan pihaknya bersama BACT akan terus menjaga produktivitas terminal melalui pemanfaatan teknologi digital.
Ke depan, pengembangan akan difokuskan pada perluasan terminal, pengerukan kolam pelabuhan agar mampu melayani kapal berbobot lebih besar, serta integrasi sistem digital kepelabuhanan secara menyeluruh.
“BP Batam bersama BTP dan BACT akan melanjutkan berbagai program strategis untuk mendukung pertumbuhan investasi dan perekonomian nasional,” pungkas Basori.(*)
