edisiana.com – Manchester City akhirnya mengonfirmasi kabar yang selama beberapa pekan terakhir mengguncang sepak bola Eropa. Pada Jumat, 22 Mei 2026, klub secara resmi mengumumkan bahwa Pep Guardiola akan meninggalkan kursi manajer pada akhir musim panas ini, menutup satu dekade penuh kejayaan di Stadion Etihad.
Keputusan itu diambil Guardiola setelah mengaktifkan klausul pemutusan kontraknya yang sejatinya masih berlaku hingga Juni 2027. Artinya, sang pelatih memilih pergi setahun lebih cepat dari kesepakatan awal.
Namun, perpisahan ini bukan akhir dari hubungan Guardiola dengan City. Sosok asal Catalunya tersebut akan tetap berada dalam struktur besar City Football Group dengan peran baru sebagai duta global sekaligus penasihat teknis bagi klub-klub yang berada di bawah jaringan CFG.
Sebelum resmi menutup lembaran sebagai manajer, Guardiola masih akan memimpin City untuk terakhir kalinya saat menghadapi Aston Villa pada Minggu nanti. Sebuah laga yang dipastikan sarat emosi bagi publik Etihad.
Sulit merangkum warisan Guardiola hanya dengan angka. Tetapi statistik tetap berbicara lantang: 20 trofi dalam 10 tahun.
Enam gelar Premier League, tiga Piala FA, lima Piala Liga, satu Liga Champions, hingga Piala Dunia Antarklub menjadi bukti dominasi era Guardiola di Manchester biru.
Lebih dari sekadar trofi, Guardiola mengubah identitas permainan City. Ia membangun tim dengan estetika, kontrol, dan obsesinya terhadap detail hingga menjadikan City sebagai salah satu dinasti terbesar dalam sejarah sepak bola modern.
Dalam pernyataannya, Guardiola menegaskan bahwa keputusannya bukan dipicu konflik ataupun kelelahan. “Jangan tanya alasan saya pergi. Tidak ada alasan, tetapi jauh di lubuk hati, saya tahu ini waktu saya,” ucap Pep dikutip dari ESPN pada hari ini.
Ucapan itu terasa seperti salam perpisahan yang tenang, khas Guardiola: reflektif dan emosional.
“Tidak ada yang abadi, jika ada, saya pasti sudah di sini. Yang abadi adalah perasaan, orang-orang, kenangan, dan cinta yang saya miliki untuk Manchester City saya,” tambahnya.
Kini, Etihad bersiap mengucapkan selamat tinggal kepada pelatih yang bukan hanya menghadirkan kemenangan, tetapi juga mendefinisikan ulang arti sepak bola indah di Inggris.(maq)
