Kisah Bintang Baru Chelsea, Joao Pedro: Dari Kota Kecil ke Akademi Fluminense, Perjuangan Keluarga Demi Impian (Bagian-2)

Pedro saat membela klub Brasil, Fluminense. Foto: via Daily Mail

edisiana.com  – Sebelum menjadi bintang muda yang digadang-gadang bersinar di Eropa, Joao Pedro menjalani perjalanan panjang yang penuh pengorbanan. Talenta istimewanya pertama kali mencuri perhatian saat tampil gemilang di berbagai turnamen yunior, hingga akhirnya menarik minat para pencari bakat dari klub-klub besar Brasil.

Salah satunya adalah Fluminense, klub asal Rio de Janeiro, yang bergerak cepat merekrut Joao Pedro ketika ia baru berusia 10 tahun.

“Saya pertama kali bertemu Joao Pedro ketika dia masih sangat muda,” ungkap Eduardo Oliviera, pelatih yang kelak membimbingnya di Fluminense, seperti dilansir The Athletic via Daily Mail.

“Saat itu saya menjadi koordinator teknis tim muda Botafogo. Ia bermain melawan tim kami, dan saya langsung melihat kualitas teknis serta kepribadiannya yang luar biasa. Dia sangat bersinar di kelompok usia muda, terutama hingga level U-13.”

Namun, perjalanan menuju akademi klub besar itu tak semulus yang dibayangkan. Joao Pedro dan keluarganya tinggal di kota Ribeirao Preto, negara bagian Sao Paulo—sekitar 640 kilometer dari Rio de Janeiro. Jarak itu sempat menjadi penghalang serius bagi impian sang bocah untuk meniti karier di Fluminense.

Di Ribeirao Preto, keluarga Joao Pedro hidup dengan nyaman meski tanpa kemewahan. Ia bersekolah di sekolah swasta, dan keluarganya menyewa rumah sambil mencoba membangun kehidupan yang stabil. Namun segalanya berubah ketika mereka memutuskan pindah ke Xerem, markas akademi Fluminense di Rio de Janeiro.

“Kami meninggalkan segalanya demi mengejar impian menjadi pemain ketika Fluminense menyetujui kepindahan saya ke akademi,” ujar Joao Pedro.

Kehidupan di Xerem jauh dari mudah. Mereka harus tinggal bersama keluarga lain dalam satu rumah, dan tak jarang kesulitan memenuhi kebutuhan dasar.

“Di Ribeirao Preto kami tak pernah kekurangan apa pun. Tapi di Xerem, kami pernah mengalami masa sulit—bahkan makanan pun tak selalu cukup. Ibu saya sering mengorbankan makan agar saya bisa makan lebih baik,” kenang Joao Pedro dengan nada haru.

Saat kondisi keluarga benar-benar terpuruk, sang ibu, Flavia, memberanikan diri mengajukan permohonan bantuan kepada pihak klub.

“Dalam tiga jam, saya menceritakan kisah hidup kami. Saya menangis karena kami benar-benar tidak punya cukup uang untuk kebutuhan dasar,” kisah Flavia.

Namun, dari momen genting itu, lahir harapan baru. Fluminense merespons dengan bantuan yang tidak hanya menyelamatkan kondisi mereka, tetapi juga mempererat hubungan emosional dengan klub.

“Itu menciptakan persahabatan. Saya selalu bilang, Fluminense tidak hanya klub, tapi tempat yang merangkul orang-orang. Mereka telah membantu mengubah hidup kami,” tutup Flavia.(maq/bersambung)

Exit mobile version