Kisah Deniz Undav: dari Buruh Pabrik ke Pentas Piala Dunia

Kendati mencetak dua gol, Undav mengalami cedera dan berat untuk mengikuti piala dunia. Foto: via ESPN

edisiana.com – Nama Deniz Undav sedang menjadi perbincangan hangat di Piala Dunia 2026. Striker Jerman itu tampil sebagai pahlawan kemenangan saat Die Mannschaft menundukkan Pantai Gading dengan skor 2-1.

Dua gol yang dicetaknya tidak hanya mengantarkan Jerman meraih tiga poin penting, tetapi juga semakin mengukuhkan statusnya sebagai salah satu bintang kejutan turnamen.

Namun, di balik sorotan lampu stadion dan gemuruh ribuan penonton, perjalanan Undav menuju panggung terbesar sepak bola dunia tidaklah mudah. Bahkan, jika melihat masa lalunya, bermain di Piala Dunia pernah terasa seperti mimpi yang mustahil.

Saat berusia 14 tahun, Undav harus menerima kenyataan pahit setelah ditolak oleh akademi Werder Bremen. Penolakan itu meninggalkan luka mendalam bagi pemain yang saat itu hanya ingin mengejar impian sebagai pesepak bola profesional.

“Ketika Werder memberi tahu saya bahwa saya tidak memiliki masa depan bersama mereka karena saya terlalu kecil, itu menghancurkan hati saya,” kenang Undav dinukil dari BBC pada hari ini.

Bagi banyak pemain muda, penolakan semacam itu mungkin menjadi akhir perjalanan. Namun bagi Undav, kegagalan justru menjadi bahan bakar untuk terus berjuang.

BACA JUGA:  Everton Merosot di Klasemen, Fans: Pecat Benitez!

Kariernya berlanjut di kasta bawah sepak bola Jerman. Ia bermain di divisi keempat sambil menjalani pekerjaan penuh waktu di sebuah pabrik. Rutinitasnya jauh dari kehidupan mewah seorang pesepak bola profesional.

“Saya bangun sekitar jam 4 pagi, pergi ke pabrik, lalu saya pergi latihan dan pulang sekitar jam 8 malam. Dan mengulanginya lagi keesokan harinya,” ujarnya.

Bayangkan, ketika pemain lain fokus berlatih dan mengembangkan kemampuan, Undav harus membagi tenaga antara pekerjaan fisik selama delapan jam dan latihan sepak bola. Namun kerja keras itu perlahan membuahkan hasil.

Titik balik kariernya datang pada tahun 2020 ketika ia bergabung dengan klub Belgia, Union Saint-Gilloise. Bersama klub tersebut, Undav membantu tim promosi ke kasta tertinggi sepak bola Belgia. Tidak berhenti sampai di situ, ia kemudian tampil luar biasa dengan mencetak 25 gol di liga utama.

Ketajamannya menarik perhatian klub Liga Inggris, Brighton & Hove Albion. Meski demikian, petualangannya di Premier League tidak berjalan sesuai harapan. Pada musim 2022-2023, ia hanya mampu mencetak lima gol dari 22 penampilan.

BACA JUGA:  City Terpuruk, Guardiola: Hadapi Tim Terbaik Eropa

Situasi tersebut membuat Brighton meminjamkannya ke Stuttgart. Keputusan itu ternyata menjadi langkah yang mengubah arah kariernya. Bersama Stuttgart, performanya kembali bersinar hingga akhirnya direkrut secara permanen.

Kini, Undav menjadi salah satu sosok penting dalam perjalanan Jerman di Piala Dunia 2026. Ia membantu Die Mannschaft menembus babak gugur untuk pertama kalinya sejak keberhasilan mereka menjuarai Piala Dunia 2014.

Statistiknya pun mengesankan. Dengan koleksi tiga gol dan dua assist dari dua penampilan sebagai pemain pengganti, Undav telah terlibat langsung dalam lima gol.

Catatan tersebut menyamai rekor legenda Kamerun, Roger Milla, yang pada Piala Dunia 1990 juga terlibat dalam lima gol sebagai pemain pengganti. Sebuah pencapaian yang belum terulang selama puluhan tahun.

Meski demikian, posisi Undav sebagai starter masih menjadi bahan diskusi. Sebelumnya, ia sempat menyampaikan ambisinya untuk mendapatkan tempat di susunan pemain utama Jerman. Pernyataan itu memunculkan spekulasi mengenai hubungannya dengan pelatih Julian Nagelsmann.

Namun Nagelsmann tampaknya memiliki pandangan tersendiri. “Kita bisa banyak berdiskusi tentang berbagai pendekatan. Mengapa saya harus mengganggu alur permainannya? Dia masuk dua kali dan mencetak gol dua kali,” kata sang pelatih.

BACA JUGA:  Pasukan Simeone Taklukkan Union 3-1 di Liga Champions

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa Nagelsmann masih melihat Undav sebagai senjata ampuh dari bangku cadangan. Meski begitu, dengan performa yang terus menanjak, bukan tidak mungkin striker berusia 29 tahun itu akan memaksa sang pelatih mengubah rencana.

Kisah Deniz Undav adalah pengingat bahwa jalan menuju kesuksesan tidak selalu lurus. Dari pemain yang dianggap terlalu kecil, pekerja pabrik yang harus bangun sebelum fajar, hingga kini menjadi pahlawan Jerman di Piala Dunia, perjalanan Undav membuktikan satu hal: mimpi besar hanya akan menjadi kenyataan bagi mereka yang memilih untuk tidak menyerah.(maq)