Pesona Ombak Bono 7 Lapis di Riau (Bagian-1): Hanya Ada Dua di Dunia

1814

Riau, edisiana.com – Pelalawan punya sungai yang mempesona. Bukan hanya menarik wisatawan lokal tapi juga wisatawan manca negara. Eksotik alam itu, namanya Ombak Bono. Atau yang bikin merinding, sering disebut Tujuh Hantu (Seven Ghost) serta Ombak Tujuh Lapis.

Sungainya, adalah Sungai Kampar. Berada di Kecamatan Teluk Meranti, Kabupaten Pelalawan, Riau. Jika dari Kota Pekanbaru sekitar 141 kilometer. Atau memakan waktu dua sampai tiga jam melalui jalan darat.

Dari Wikipedia menerangkan wilayah Teluk Meranti dibelah oleh aliran sungai Kampar yang bermuara ke Selat Malaka. Sepanjang aliran sungai tersebut membentang hutan tropis di kedua sisi sungai.

BACA JUGA:  Tujuh Formasi CASN di Riau Tidak Ada Pelamar

Potensi besar di Teluk Meranti di bidang pariwisata. Yaitu objek wisata fenomena alamnya, ombak Bono tadi yang terdapat di sungai Kampar.

Ombak seperti ini hanya ada dua di dunia. Yakni di Sungai Amazon, Brazil dan Sungai Kampar Teluk Meranti, Pelalawan.

Khusus Ombak Bono oleh masyarakat setempat sering disebut sebagai Tujuh Hantu, atau Ombak Tujuh Lapis. Hal tersebut dikarenakan ombak besar yang ada di depan kemudian akan diikuti oleh enam ombak di belakangnya.

BACA JUGA:  Alhamdulillah, Kasus Covid-19 di Riau Turun

Gulungan air sungai berlapis ini tingginya mencapai 6 meter lebih, berkecepatan 40 km per jam. Gelombangnya menghantarkan hempasan bertubi-tubi diiringi suara menderu keras. Bahkan mampu melumat pepohonan serta mengikis tanah terjal di sekitarnya.

Nama bono dalam bahasa masyarakat setempat berarti benar. Yang memiliki memiliki kisahnya sendiri. Kala itu Raja Pelalawan meminta utusan masyarakat setempat menghadap ke Istana Sayap. Namun sang utusan terhalang oleh gelombang untuk menyeberang sungai.

BACA JUGA:  Calya Nabrak Motor, Pesepeda dan Pejalan Kaki di Jalan Sudirman Pekanbaru

Karena ketidakhadiran utusan tersebut, kemudian sang raja memerintahkan pengecekan langsung apakah betul ada gelombang dahsyat di sungai. Akhirnya diperoleh informasi bahwa hal tersebut benar adanya.

Kata benar ini dalam bahasa setempat disebut bono dan sejak saat itu kata bono melekat pada gelombang sungai di Teluk Meranti.(maq/bersambung)

BAGIKAN