edisiana.com – Juara bertahan Eropa Manchester City akan bertandang ke kandang Copenhagen pada Rabu dinihari besok. Keduanya berduel di leg pertama babak 16 besar Liga Champions.
Tim asal Denmark itu akan berusaha mencapai prestasi terbesar mereka: Menghentikan mesin kemenangan biru langit Pep Guardiola.
Mereka memang diremehkan oleh banyak orang, namun rekor Eropa FC Copenhagen di kandang sangat luar biasa. Mereka telah memainkan 18 pertandingan di Parken di Liga Champions sepanjang sejarah mereka, dan mereka hanya kalah dua kali.
Dengan Liga Champions yang semakin didominasi oleh segelintir klub kaya raya, FC Copenhagen menjadi sebuah kemunduran, dalam perlawanan dari masa ketika sepak bola Eropa masih berbeda.
Denmark tidak akan berhenti menjadi pengganggu bagi lawan glamor UEFA mana pun yang menghalanginya.
Pep sudah pernah bertemu dengan klub tersebut. Tapi saat mengasuh Barcelona pada tahun 2010 silam. Kala itu Barça diperkuat oleh Carles Puyol dan Gerard Pique di belakang, lini tengah Sergio Busquets , Xavi dan Andres Iniesta, serta Lionel Messi dan David Villa di depan.
Itu adalah tim yang kemudian memenangkan Liga Champions kedua dalam tiga tahun. Sebuah tim yang dianggap oleh banyak orang sebagai klub terbaik sepanjang masa. Namun FC Copenhagen, yang mewakili Liga Super Denmark, menahan imbang mereka 1-1 di Parken.
Hasil heroik itu, dan kemenangan melawan Manchester United, bukanlah hal yang aneh. Selama berbagai petualangan mereka di Eropa, FC Copenhagen telah mengalahkan atau seri dengan klub-klub besar.
Seperti Juventus, Borussia Dortmund, Ajax, Benfica, Valencia, Sevilla, FC Porto, Celtic dan, tentu saja, Manchester City.
Ketika pasukan Guardiola mengunjungi ibu kota Denmark musim lalu dalam perjalanan meraih treble, mereka ditahan imbang 0-0.
Mereka telah belajar pentingnya menjaga penguasaan bola dan mencoba memainkan permainan mereka sendiri, bahkan melawan beberapa nama terbesar di benua ini.
Direktur olahraga FC Copenhagen, Peter Christensen yakin hasil positif klub di Eropa telah memberi mereka kepercayaan diri untuk bermain lebih asertif.
“Tentu saja kami underdog, tapi kami memutuskan untuk mengubah cara kami mendekati pertandingan,” katanya seperri ESPN pada hari ini.
“Kami memutuskan untuk menggunakan pendekatan yang lebih agresif dan optimis, dan bermain dengan lebih berani, bahkan jika kami menghadapi pemain kelas dunia,” tambahnya.
Menurut dia pola pikir permainan Copenhagen berubah karena pengalaman sebagai klub, dan juga hasil. “Karena di kandang, kami mampu bersaing dengan siapa pun. Itu faktor yang sangat besar,” ujarnya.(maq)
