edisiana.com – Kekalahan Brasil di babak 16 besar Piala Dunia masih menyisakan rasa terkejut bagi banyak pencinta sepak bola. Tim yang mengoleksi lima gelar juara dunia itu harus mengakhiri perjalanan lebih cepat dari yang diperkirakan.
Brasil, yang pernah mengangkat trofi Piala Dunia pada 1958, 1962, 1970, 1994, dan 2002, datang ke turnamen tahun ini dengan optimisme tinggi. Di bawah arahan pelatih asal Italia, Carlo Ancelotti, Selecao diharapkan mampu melangkah hingga partai final.
Namun, harapan tersebut pupus. Tim yang dihuni banyak pemain bintang justru harus mengakui keunggulan Norwegia, yang mengandalkan kekuatan kolektif serta ketajaman striker andalannya, Erling Haaland.
Hasil ini memunculkan gelombang kritik dari publik Brasil. Situasinya bahkan mulai dibandingkan dengan yang pernah dialami Jerman, ketika kegagalan di turnamen besar memicu tuntutan perubahan menyeluruh dalam sistem sepak bola nasional.
Di tengah derasnya kritik, muncul pula desakan agar Pep Guardiola ditunjuk sebagai pelatih tim nasional Brasil. Padahal, Carlo Ancelotti baru saja memulai tugasnya sebagai pelatih Selecao.
Meski demikian, Ancelotti menegaskan bahwa dirinya tetap berkomitmen melakukan restrukturisasi tim. Pelatih yang pernah membawa berbagai klub elite Eropa meraih banyak gelar itu menilai kegagalan pertama ini tidak akan menghentikan ambisinya membangun kembali kekuatan Brasil.
Di sisi lain, reaksi para pendukung Brasil di media sosial menunjukkan kekecewaan yang sangat besar. Sebagian bahkan secara terbuka meminta federasi segera mengakhiri kerja sama dengan Ancelotti.
Salah satu komentar yang ramai dibagikan di media sosial berbunyi, “Bruno Guimaraes yang harus disalahkan, Endrick yang harus disalahkan. Tetapi orang utama yang bertanggung jawab atas eliminasi ini adalah Ancelotti yang pengecut dan arogan,” tulis penggemar di medsos seperti dikutip dari MD pada hari ini.
Komentar tersebut juga menuding Ancelotti menerapkan strategi yang terlalu pasif dengan membiarkan Norwegia lebih banyak menguasai bola.
“Dia jelas-jelas menginstruksikan tim untuk membiarkan Norwegia menguasai bola. Seorang pengecut. Jelas ada yang salah, tetapi dia menolak untuk memperbaikinya. Pelatih terbaik di dunia yang seharusnya tidak pernah lagi melatih tim nasional,” tulis seorang pendukung lainnya.
Terlepas dari derasnya kritik, perjalanan Carlo Ancelotti bersama Brasil tampaknya masih akan menjadi sorotan. Tantangan terbesarnya kini bukan hanya membangun kembali performa tim, tetapi juga mengembalikan kepercayaan publik yang mulai goyah setelah kegagalan di Piala Dunia.(maq)
