Fayulu Jadi Dewa Penalti dan Nigeria Terdepak dari Piala Dunia 2026

Pemain Kongo merayakan kemenangan untuk lolos ke Play-off. Foto: via MD

edisiana.com – Jika sepak bola adalah drama, maka duel Kongo vs Nigeria adalah naskah lengkap yang ditulis untuk membuat jantung meledak. Pertandingan berakhir 1–1 setelah 120 menit, tetapi semuanya berubah menjadi legenda ketika Timothy Fayulu, kiper yang baru masuk pada menit ke-120, muncul sebagai pahlawan tak terduga.

Nigeria memulai laga dengan sempurna. Baru beberapa menit berjalan, Frank Onyeka memecah kebuntuan lewat tembakan yang membawa Super Eagles memimpin.

Namun di akhir babak pertama, Meschack Elia menyamakan kedudukan—dan sejak itu, tensi tak pernah turun.

Babak kedua menjadi uji nyali. Perpanjangan waktu 30 menit pun berlalu tanpa gol, tanpa kelalaian, dan penuh ketegangan. Laga ditarik ke adu penalti, dan di sinilah drama mencapai titik klimaks.

BACA JUGA:  Aston Villa Stop Lille ke Semifinal Liga Eropa

Masuk hanya untuk adu penalti, Fayulu berubah menjadi tembok hidup. Ia menyelamatkan dua dari tiga penalti Nigeria, menggagalkan mimpi satu bangsa yang sudah terpeleset sejak awal kualifikasi dan tak pernah benar-benar bangkit.

Penalti penentu diambil oleh kapten dingin-berdarah—Chancel Mbemba. Satu langkah, satu tembakan, dan bola masuk.

Kongo melaju ke playoff antarkonfederasi, selangkah dari penampilan Piala Dunia pertama mereka sejak… 1974. Sebuah tonggak sejarah yang kini hanya tinggal satu pintu lagi.

BACA JUGA:  "Menurutku, Klopp Itu Menyebalkan"

Nigeria? Malam ini mereka kembali tenggelam dalam tragedi. Untuk kedua kali berturut-turut, Super Eagles gagal ke Piala Dunia, dan untuk ketiga kalinya sejak 2006.

Bahkan bintang besar mereka, Victor Osimhen, pencetak gol terbanyak Liga Champions UEFA musim lalu, harus diganti sejak babak pertama.

Menurut laporan ESPN, dari Afrika kini sudah ada deretan tim yang memastikan tiket: Aljazair, Tanjung Verde, Pantai Gading, Mesir, Ghana, Maroko, Senegal, Afrika Selatan, dan Tunisia.

Afrika telah memilih para raksasanya—dan Kongo masih berdiri, masih bernafas, masih berani bermimpi. Satu laga lagi untuk kembali ke panggung dunia setelah 50 tahun. Dan berkat Fayulu, mimpi itu tetap hidup.(maq)