edisiana.com – Suriname tinggal selangkah lagi dari keajaiban. Negara mungil di benua Amerika ini sedang menulis bab paling epik dalam sejarah sepak bolanya — dan mungkin juga dalam sejarah Piala Dunia itu sendiri.
Tim berperingkat 126 dunia itu berada di ambang lolos ke Piala Dunia 2026. Jika mereka berhasil, Suriname akan menjadi tim dengan peringkat FIFA terendah yang pernah menembus turnamen terbesar di planet sepak bola.
Tidak ada yang menyangka ini bisa terjadi. Hanya sepuluh tahun lalu, Suriname berada di peringkat 191 dunia, nyaris tenggelam di dasar peringkat FIFA. Kini, mereka duduk di puncak Grup A Kualifikasi CONCACAF, mengungguli Panama, Guatemala, dan El Salvador.
Dan malam ini, saat mereka menjamu Guatemala di Paramaribo, seluruh negeri menahan napas. Sebuah kemenangan — atau bahkan hasil imbang tergantung hasil lain — bisa membawa mereka ke panggung dunia.
WARISAN BESAR, NEGARA KECIL
Melansir Daily Mail menjelaskan, Suriname mungkin kecil, tetapi warisan sepak bolanya besar. Dunia mengenal nama-nama legendaris seperti Ruud Gullit, Frank Rijkaard, Edgar Davids, Clarence Seedorf, Patrick Kluivert, hingga Jimmy Floyd Hasselbaink — semua berdarah Suriname.
Generasi Belanda saat ini pun punya ikatan yang sama: Wijnaldum, Xavi Simons, Gravenberch, Malen, Dumfries.
Kini, generasi baru dari tanah leluhur itu mencoba menulis cerita mereka sendiri. Bukan di Amsterdam, bukan di Rotterdam — tapi di Paramaribo.
REVOLUSI DARI EROPA KE PARAMARIBO
Keberhasilan Suriname bukan kebetulan. Di baliknya ada sosok Brian Tevreden, mantan direktur sepak bola Reading, yang kini menjabat manajer umum federasi.
Empat tahun lalu, ia memulai proyek ambisius: membuka pintu bagi pemain berdarah Suriname yang berkarier di Eropa untuk memperkuat tim nasional.
Awalnya ada perdebatan soal nasionalisme dan kebanggaan lokal. Tapi hasil tidak bisa dibantah. Kemenangan demi kemenangan mengubah pandangan publik.
“Ke mana pun Anda pergi, semua orang membicarakannya. Anda bisa merasakan kegembiraan, tekanan, dan ketegangan di udara,” ujar Tevreden dinukil dari Daily Mail pada hari ini.
“Tiket pertandingan melawan El Salvador terjual habis dalam 30 menit. Bayangkan kalau kami lolos ke Piala Dunia… gila banget!”
DARI MIMPI MENJADI TAKDIR
Suriname berdiri di tepi sejarah. Dua pertandingan tersisa, dan hanya tiga poin yang memisahkan posisi puncak dari dasar klasemen. Semua masih bisa terjadi — tapi satu hal pasti: mimpi itu hidup.
Jika mereka benar-benar melangkah ke Piala Dunia, itu akan menjadi kisah underdog paling ajaib dalam sepak bola modern.(maq)









