Zambia Dihabisi Singa Atlas

Pemain Maroko merayakan golnya. Foto: via BBC

edisiana.com – Rabat berpesta. Maroko menunjukkan siapa raja Grup A. Zambia disapu bersih. Skor telak 3-0, tanpa ampun.

Tuan rumah datang dengan misi jelas: puncak klasemen atau tidak sama sekali.
Dengan keunggulan tipis dua poin atas Mali sebelum laga, Singa Atlas memilih jalan paling meyakinkan—menyerang sejak menit pertama.

Menit ke-9, ledakan pertama. Ayoub El Kaabi menyambut sepak pojok pendek dengan sundulan tajam. Gol cepat. Stadion bergemuruh. Zambia terpukul.

Belum selesai. Brahim Diaz naik panggung. Bintang Real Madrid itu menggandakan keunggulan di pertengahan babak pertama, menyambar umpan silang rendah Abde Ezzalzouli dari jantung kotak penalti. Gol ketiganya di turnamen final. Efisien. Mematikan.

Babak kedua baru berjalan lima menit, Rabat kembali terdiam—lalu meledak. El Kaabi mencetak gol indah dengan tendangan salto. Spektakuler. VAR sempat menahan napas, tapi akhirnya gol disahkan. 3-0. Tamat.

Maroko bahkan masih punya kemewahan. Achraf Hakimi kembali. Sang kapten masuk tepat setelah menit ke-60, comeback setelah hampir dua bulan absen karena cedera pergelangan kaki. Sebuah pesan jelas: Maroko siap tempur penuh.

Hakimi hampir menutup malam sempurna saat tendangan rendahnya di menit-menit akhir dipatahkan kiper Zambia, Willard Mwanza. Tapi itu tak mengubah cerita.

Menukil BBC, tim Walid Regragui memastikan diri sebagai juara Grup A dan tetap berada di Rabat. Lawan berikutnya? Tim peringkat ketiga dari Grup C, D, atau E, pada Minggu, 4 Januari. Jalan menuju mimpi masih terbuka.

Targetnya jelas dan tak disembunyikan: Piala Afrika pertama sejak 1976.

Bagi Zambia, ini akhir perjalanan. Tersingkir. Dan luka lama kembali terbuka. Kini 13 laga tanpa kemenangan di putaran final Piala Afrika—catatan kelam yang berawal sejak dongeng indah juara 2012 di Gabon.

Maroko melaju. Zambia tenggelam. Singa Atlas terus mengaum.(maq)

Exit mobile version