Bola  

Arteta Menyulap Arsenal, dari Tim Berantakan Jadi Memikat

Mikel Arteta saat pertama kali diperkenalkan sebagai manajer Arsenal. Foto: via Daylimail

edisiana.com – Kala itu 31 Desember 2019. Kota Manchester hujan lebat. Perwakilan Arsenal datang ke rumah Arteta di Didsbury, pinggiran kota Manchester.

Mereka terlibat pembicaraan malam tahun baru itu. Arsenal mengajak Arteta untuk pulang ke London. Karena kondisi klub yang lagi tidak bagus. Pelatih Spanyol itu pun oke.

Tapi Arteta, yang baru berusia 37 tahun, bergumul dengan keraguan apakah dia siap untuk pindah. Di City, dia pernah menjadi asisten Pep Guardiola. Dan beda.

Arsenal lagi berantakan. Arsenal bukanlah pesaing dan sudah bertahun-tahun tidak menjadi pesaing. Terutama sejak ditinggalkan Arsene Wenger. Seperti  tersesat dan kehilangan rohnya. 

Unai Emery mencoba untuk meninggalkan masa lalu Arsenal yang gemilang. Ia punya kebijakan dan gaya sendiri di skuad. Tapi kandas.Dia hanya bertahan selama 18 bulan.

BACA JUGA:  Ronaldo Tidak Ada Pilihan Selain City

Arteta masuk. Membenahi semua di Emirates. Rumah lamanya saat sebagai pemain. Dia tidak merasakan klub besar seperti saat itu, tetapi setidaknya dia mendapat keuntungan. Dia sudah tahu apa yang menjadi akar masalah.

Sebelum ditunjuk sebagai manajer, dia bersama Guardiola berbicara di pinggir lapangan di London. Menyaksikan duel Arsenal menjamu City.

The Gunners kalah 3-0. Tapi dia memetik titik terang dari pertandingan itu. Ya, Arteta tahu apa yang salah dengan Arsenal. Dia hanya perlu mencari cara untuk memperbaikinya. Insting pertamanya menerapkan cara yang seperti di akademi Barcelona. Saat diasuh Basque. Serta juga ilmu yang didapat bermain di Everton dan di Arsenal di bawah asuhan Wenger.

BACA JUGA:  Republik Irlandia Akhiri Kualifikasi dengan Hasil Imbang Kontra Luksemburg

“Semua orang harus merasa terhormat berada di sini dan para pemain harus menerima keadaan yang berbeda,” kata Arteta, sambil duduk mengelilingi meja kayu ke besar seperti dilansir Daylimail pada Sabtu, 30 Maret.

Saat menyampaikan kalimat penutup terakhir di depan pemain, Arteta melepaskan pukulan keras dengan telapak tangan kirinya.

Dua tahun setelah malam itu di London utara, direktur olahraga Arsenal Edu Gaspar menerima telepon dari seorang agen. Subjeknya adalah kapten klub dan penandatanganan rekor Pierre Emerick Aubameyang.

Arteta sudah lelah, dan menyimpan catatan rinci, tentang disiplin buruk Aubameyang dan menjatuhkannya serta meminta agar dia dijual.

Aubameyang adalah pemain terbaik klub. Mereka membutuhkannya. Namun Edu bertekad mendukung Mikel. Dia mengatakan itu adalah momen penting dalam masa Mikel di klub.

BACA JUGA:  Mahrez: City Harus Tancap Gas Sejak Awal Musim

Aubameyang kini bermain untuk Marseille di Prancis. Singkatnya Arteta melakukan perubahan skuad. Dari lini belakang, tengah dan depan.

Hasilnya pun bisa dilihat hari ini, Arsenal berada di puncak Liga Premier menjelang pertandingan hari Minggu di Manchester City.(maq)