edisiana.com – Sabtu malam di Etihad bakal menghadirkan duel dua tim yang datang dengan luka segar. Manchester City dan Leeds United sama-sama menatap laga ini dengan dorongan yang sama: bangkit, menang, dan menghapus jejak kekalahan yang masih terasa pahit.
City asuhan Pep Guardiola sedang membidik rekor kecil namun penuh makna: enam kemenangan kandang liga beruntun, sesuatu yang terakhir kali mereka capai pada periode Januari–Mei 2023.
Dan mereka punya alasan besar untuk percaya diri: 23 kemenangan dari 25 laga liga terakhir melawan tim promosi.
Namun tetap ada duri dalam statistik itu—kekalahan terakhir mereka dari tim promosi justru terjadi di Etihad, dari Leeds, April 2021, skor 2-1. Sinyal bahwa bahaya kecil selalu mengintai.
Di kubu Leeds, tekad tak kalah besar, meski performa mereka belakangan ini lebih mendekati mimpi buruk. Lima kekalahan dalam enam laga Premier League, termasuk tiga kekalahan beruntun dari Brighton (3-0), Nottingham Forest (3-1), dan Aston Villa (2-1), membuat tim Daniel Farke datang ke Manchester sebagai underdog yang sedang terhuyung-huyung.
Sport Mole mencatat bahwa Leeds kalah dalam dua laga tandang liga terakhir mereka ke Etihad, dan terakhir kali mereka mengalami rentetan lebih buruk dari itu adalah antara 1963–1968
Ketika mereka tumbang empat kali beruntun. Sebuah sejarah yang Leeds ingin hentikan, tidak ingin ulang.
Namun masih ada setitik cahaya untuk Farke. Ia pernah mengejutkan Premier League ketika membawa Norwich asuhannya menang atas City pada September 2019.
Sebuah bukti bahwa pelatih Jerman itu tahu cara memukul raksasa—setidaknya sekali.
Etihad kini siap jadi saksi: City yang mengaum untuk kembali ke jalur juara, atau Leeds yang ingin menulis kejutan klasik. Malam Sabtu menjanjikan drama, dan Premier League—seperti biasa—tak pernah mengecewakan.(maq)









