edisiana.com – Malam Eropa berubah menjadi mimpi buruk bagi Madrid. Tim asuhan José Mourinho, Benfica, menghancurkan Los Blancos 4-2 dalam laga penuh drama, emosi, dan kartu merah. Bahkan lebih menyakitkan: satu gol Benfica dicetak oleh sang penjaga gawang, Anatoliy Trubin. Ya, kiper!
Benfica tampil tanpa ampun. Pertahanan Madrid koyak sejak awal, dan keunggulan datang menjelang turun minum.
Vangelis Pavlidis dengan dingin mengeksekusi penalti setelah Nicolás Otamendi dijatuhkan oleh Aurélien Tchouaméni di kotak terlarang. Courtois tak berkutik.
Babak kedua baru berjalan, luka Madrid kembali disayat. Schjelderup, yang dibiarkan bebas tanpa pengawalan, menerima bola di dalam kotak penalti dan melepaskan tembakan keras ke tiang dekat. Courtois kembali kalah. 2-0. Estádio da Luz bergemuruh.
Madrid sempat bangkit. Kylian Mbappé, satu-satunya cahaya di malam kelam ini, memperkecil ketertinggalan lewat penyelesaian cerdas. Gol ke-13 sang bintang di Liga Champions musim ini. Harapan sempat hidup. Drama mulai terasa.
Namun akhir laga berubah menjadi kekacauan total. Peluang hadir di kedua sisi lapangan sebelum Raúl Asencio diganjar kartu kuning kedua pada menit ke-92.
Belum cukup, Rodrygo, yang baru masuk sebagai pemain pengganti, menerima dua kartu kuning hanya dalam hitungan detik karena protes. Madrid tersisa sembilan pemain. Neraka.
Dan ketika segalanya sudah tampak berakhir. Dan datanglah momen paling gila malam itu. Benfica mencetak gol penentu dalam situasi yang hampir tak masuk akal.
Trubin, sang kiper, ikut menorehkan namanya di papan skor. Sejarah kecil tercipta. Madrid runtuh.
Hasil ini menurut BBC, memastikan Benfica melaju ke babak play-off Liga Champions. Madrid finis di posisi kesembilan, Benfica di urutan ke-24. Ironisnya? Peluang 50-50 kedua tim akan kembali bertemu.
Jika itu terjadi, Madrid tahu satu hal: Benfica bukan sekadar lawan. Mereka adalah ancaman nyata.(maq)










