edisiana.com – Rabu malam akan menjadi panggung penentuan di babak penyisihan Liga Champions. Di Etihad Stadium, Galatasaray bersiap menantang raksasa Inggris, Manchester City, dalam duel yang dijadwalkan kick-off pukul 20.00 waktu setempat.
Wakil Turki itu tidak datang dengan tangan kosong. Cimbom membawa modal kepercayaan diri yang solid, terlebih dengan reputasi mereka di kompetisi Eropa.
Sepanjang fase grup Liga Europa musim lalu, Galatasaray hanya sekali menelan kekalahan—ironisnya dari Tottenham Hotspur, tim yang pada akhirnya keluar sebagai juara.
Awal kampanye Liga Champions musim ini juga meninggalkan sinyal bahaya. Galatasaray sukses menundukkan Liverpool yang tampil jauh dari performa terbaiknya.
Gol semata wayang Victor Osimhen lewat titik putih di babak pertama cukup untuk mengunci kemenangan 1-0 dan mengirim pesan tegas ke seluruh Eropa.
Pertanyaannya kini: mengapa Galatasaray, klub paling sukses dalam sejarah sepak bola Turki, kerap menjadi mimpi buruk bagi tim-tim Inggris?
Asisten manajer Galatasaray, Ismael García Gómez, punya jawabannya. Menurutnya, akar kekuatan itu terletak pada karakter liga domestik Turki sendiri.
“Liga Turki adalah liga yang paling bernuansa Inggris di luar Inggris,” ujar García Gómez, dikutip dari Sport Mole.
Ia menambahkan bahwa Galatasaray adalah representasi paling jelas dari karakter tersebut.
“Saya pikir ketika kami menghadapi pertandingan yang dinamis dan transisional, terutama melawan tim-tim Inggris, kami sangat terbiasa. Liga Turki memang tidak berada di level Premier League, tetapi gaya permainannya lebih mirip Inggris dibanding liga Eropa lain—lebih cepat daripada Italia atau Spanyol yang cenderung bertempo lebih rendah,” jelasnya.
Bagi Galatasaray, menghadapi tim Inggris justru terasa nyaman. Permainan terbuka, intensitas tinggi, dan duel fisik adalah medan yang mereka kenal betul.
Meski mengakui dirinya bukan bagian dari sepak bola Inggris dan hanya seorang penggemar, García Gómez menegaskan bahwa atmosfer sepak bola Turki tidak kalah dengan negara mana pun di Eropa.
“Tidak ada yang perlu dicemburui. Atmosfer stadion di Turki luar biasa. Saya cukup beruntung pernah bekerja di berbagai negara Eropa, dan semangat di sini berada di level yang sama dengan siapa pun,” tutupnya.
Kini, di hadapan Manchester City, Galatasaray kembali membawa identitas itu ke panggung terbesar. Dan seperti sejarah yang sering terulang, tim Inggris tahu betul: Cimbom bukan lawan yang bisa diremehkan.(maq)
