edisiana.com – Benfica, kilat yang menyambar di malam gelap Amsterdam. Sementara Ajax kembali terperosok dalam mimpi buruk Eropa.
Pasukan José Mourinho justru menyalakan kembali harapan menuju babak gugur Liga Champions lewat kemenangan 0-2 yang terasa seperti tamparan keras di Johan Cruyff Arena.
Ajax kembali tenggelam. Ini adalah kekalahan kelima beruntun mereka di kompetisi musim ini—ditambah tiga kekalahan terakhir di Liga Europa musim lalu.
Tim Belanda itu kini tampak tanpa arah, tanpa reaksi, dan tanpa gol yang cukup untuk mengangkat kepala mereka dari dasar klasemen.
Benfica memulai dengan dentuman.
Baru enam menit laga berjalan, Samuel Dahl meledakkan bola ke gawang lewat tembakan keras yang tak mungkin dihentikan.
Sebuah gol yang langsung membungkam stadion dan memberi tanda bahwa malam ini milik Benfica.
Ajax, tersengat, mencoba bangkit. Davy Klaassen dan Rayane Bounida mendapat peluang emas, tetapi kiper Anatoliy Trubin tampil seperti dinding beton—tanpa retak sedikit pun.
Oscar Gloukh juga menguji sang kiper, namun lagi-lagi Trubin menepis bola di tiang dekat dengan refleks luar biasa.
Dan ketika Ajax mulai menggedor dengan putus asa, Benfica justru mengakhiri segalanya. Leandro Barreiro, dalam sebuah sprint yang tampak seperti panah dilepaskan, menutup laga dengan gol keras di waktu tambahan. Benfica memastikan kemenangan, Ajax memastikan kejatuhan lainnya.
Harapan hidup kembali di Lisbon. Melansir BBC, Benfica, yang baru meraih kemenangan pertama setelah enam kekalahan beruntun di Liga Champions sejak kedatangan Mourinho, kini kembali dalam perburuan tiket ke fase gugur.
Dan Ajax? Mereka menatap jurang: tanpa poin, dengan hanya satu gol dicetak, dan bayang-bayang eliminasi semakin membesar. Sebuah raksasa Eropa yang kini hanya menyisakan nama.(maq)










