edisiana.com – Manchester City seperti tak bisa lari dari bayang-bayang karma. Setelah pekan lalu menuai sorotan karena keputusan wasit saat menjamu Liverpool, kini giliran mereka merasakan pahitnya keputusan serupa di St. James’ Park.
Dan pelakunya: Harvey Barnes—sang eksekutor dingin yang membantai City dengan dua gol yang membuat publik Newcastle bergemuruh.
Laga sebelumnya, City terlibat drama panas kontra Liverpool. The Reds sempat menyamakan kedudukan lewat sundulan Virgil van Dijk, namun gol itu langsung dipatahkan oleh keputusan wasit.
Pemain berdarah Indonesia itu sempat memprotes keras, tetapi reaksinya diabaikan, dan kontroversi itu meledak menjadi headline di Inggris selama berhari-hari.
Namun akhir pekan ini, naskah yang sama diputar ulang—hanya pemerannya berbeda. Harvey Barnes kembali memecahkan jantung City dengan gol kedua yang menjadi pusat badai.
Berawal dari situasi sepak pojok, Barnes tampak bersenggolan dengan Gianluigi Donnarumma sebelum menceploskan bola. Sang kiper Italia langsung berlari mengejar wasit, menuntut tinjauan VAR.
Tapi, tidak ada. Seakan universe ingin bercanda, wasit kali ini memilih untuk tidak memeriksa layar.
Rúben Dias pun tak bisa menahan frustrasi. Sang bek Portugal meledak dalam kritiknya soal ketidakkonsistenan keputusan wasit.
“Dari semua keputusan, hanya gol kedua—itu yang harusnya dibuat masuk akal,” ujar Dias, dikutip ESPN pada Ahad ini.
“Terkadang itu dianggap pelanggaran, terkadang tidak. Di mana aturannya? Apa yang bisa kami lakukan?”
Dias menyebut Barnes jelas mendorong Donnarumma, sementara posisi sang kiper sudah kacau dari awal.
Pep Guardiola, ditanya mengenai insiden itu, hanya mengangkat alis sembari mengingat kembali gol Bournemouth di Etihad—yang juga melibatkan gangguan terhadap Donnarumma.
“Kalau dia mengeluh, pasti ada yang salah. Hal yang sama terjadi lawan Bournemouth. Ya, begitulah adanya,” kata Pep dengan nada datar.
Kekalahan ini membuat City menelan pil pahit: kesempatan emas untuk memangkas jarak dengan Arsenal menjadi satu poin lenyap begitu saja.
The Gunners akan berhadapan dengan rival abadi, Tottenham, pada Minggu—sementara City kini hanya bisa menonton dan berharap.
Drama VAR? Kontroversi wasit? City merasa dikhianati. Newcastle tersenyum lebar. Liga Primer kembali membuktikan: tidak ada naskah yang lebih liar daripada kenyataan di lapangan.(maq)











