edisiana.com – Kilauan lampu di Théâtre du Châtelet, Paris, ketika nama Ousmane Dembélé diumumkan sebagai peraih Ballon d’Or tahun ini. Sebuah momen puncak karier yang tak pernah mudah diraih, terutama bagi pemain yang sempat dikenal lebih dekat dengan stik PlayStation ketimbang kedisiplinan lapangan.
Namun malam itu adalah miliknya — pemain kidal yang penuh kejutan, akhirnya dinobatkan sebagai yang terbaik di dunia.
Lahir di Vernon, sebuah kota kecil di wilayah Normandy, Prancis, 28 tahun lalu, Dembélé dibesarkan dalam keluarga multikultural: sang ibu berasal dari Mauritania-Senegal, dan ayahnya dari Mali. Warisan budaya Afrika itu membentuk karakter serta gaya mainnya yang penuh flair dan spontanitas.
Dembélé memulai langkah profesionalnya di Rennes, klub di barat laut Prancis. Di usia 19 tahun, ia menolak rayuan Liga Primer Inggris dan memilih berlabuh ke Borussia Dortmund.
Di bawah asuhan Thomas Tuchel, ia hanya butuh satu musim untuk mencuri perhatian Eropa — cukup untuk membuat Barcelona membayar £135,5 juta pada 2017, menjadikannya pemain termahal kedua di dunia saat itu.
Namun perjalanannya di Camp Nou tidak selalu mulus. Meski Xavi sempat menyebutnya sebagai calon pemain terbaik dunia jika ditangani pelatih yang tepat, Dembélé justru menjadi pemain yang paling sering didenda klub karena masalah kedisiplinan.
Ia juga mengalami 14 cedera otot yang membuatnya absen total 784 hari. Bahkan, di masa awalnya, gaya hidupnya menjadi sorotan — sering bermain PlayStation hingga pukul 2 pagi, tanpa memedulikan pentingnya istirahat dan pemulihan.
“Untuk waktu yang lama, Ousmane begitu hebat sehingga ia tidak perlu fokus pada apa pun selain bermain sepak bola,” ungkap seorang sumber dekat sang pemain, dikutip dari Daily Mail.
“Ia tahu ia bisa main PlayStation hingga dini hari dan tetap tampil keesokan harinya,” tambahnya.
Namun, Dembélé tak selamanya hidup dalam bayang-bayang potensi. Titik baliknya datang pada 2023. Setelah rangkaian cedera dan tekanan dari klub, Barcelona melepasnya ke Paris Saint-Germain seharga £43,5 juta.
Di sinilah ia mulai berubah. PSG melihat peluang besar: pemain Prancis berbakat yang belum mencapai puncaknya, kini kembali bermain di tanah air.
Dembélé pun mulai menata ulang hidupnya. Ia merekrut ahli gizi, koki pribadi, serta fisioterapis tetap. Fokusnya meningkat, dan perlahan performanya pun menanjak.
Kini, dua tahun setelah itu, kerja keras dan kedewasaannya berbuah manis. Ballon d’Or di tangannya menjadi simbol bukan hanya dari talenta, tetapi juga kematangan dan perjuangan.
Ousmane Dembélé bukan lagi sekadar pemain berbakat yang rawan cedera dan susah bangun pagi. Ia kini ikon sepak bola dunia — bukti bahwa perubahan itu mungkin, bahkan untuk mereka yang pernah tersesat di jalan menuju kejayaan.(maq)
