edisiana.com – Tujuh bulan penantian. Tujuh bulan luka dan frustrasi. Fiorentina akhirnya menang—dan bagaimana mereka menang. La Viola menghancurkan Udinese 5-1, dalam laga yang berubah arah sejak menit-menit awal.
Segalanya ditentukan hanya dalam delapan menit. Udinese kehilangan kiper mereka, Maduka Okoye, yang diganjar kartu merah.
Sejak saat itu, pertandingan praktis menjadi milik Fiorentina. Keunggulan jumlah pemain dimanfaatkan tanpa ampun.
Albert Gudmundsson membuka skor di menit ke-21, memecah kebuntuan dan membebaskan beban yang menekan sejak 25 Mei, hari terakhir musim lalu.
Fiorentina terus menekan, dan sebelum turun minum, Gudmundsson kembali mencatatkan namanya, disusul gol Cher Ndour di detik-detik akhir babak pertama. Babak pertama ditutup dengan dominasi total.
Babak kedua menjadi panggung Moise Kean. Striker Italia itu mencetak dua gol, memastikan pesta gol La Viola benar-benar sempurna. Udinese sempat memperkecil ketertinggalan lewat Oumar Solet, tetapi itu tak lebih dari catatan hiburan.
Skor akhir 5-1. Sebuah kemenangan besar, pelepas dahaga, dan mungkin—titik balik. Fiorentina kembali bernapas. Dan untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, mereka tersenyum lagi.(maq)
