edisiana.com – Brighton menghentak, Liverpool tersungkur. Di bawah langit Sabtu malam yang tegang, Amex Stadium menjadi saksi penderitaan tim asuhan Arne Slot yang kembali kehilangan arah di momen krusial musim ini.
Sosok yang paling menyakitkan bagi The Reds? Seorang mantan pemain Manchester United: Danny Welbeck.
Welbeck membuka luka lebih awal. Dengan insting tajamnya, ia mencetak gol pembuka yang membuat publik tuan rumah bergemuruh.
Liverpool sempat menunjukkan reaksi—sebuah respons cepat yang datang melalui Milos Kerkez untuk menyamakan kedudukan.
Namun, seperti drama klasik Premier League, Brighton menolak tunduk.
Welbeck kembali muncul di babak kedua.
Tanpa ampun, tanpa ragu. Gol keduanya malam itu memastikan kemenangan 2-1 dan melanjutkan performa impresif Brighton: empat kemenangan dalam lima pertandingan terakhir.
Ironisnya, di tengah ketajamannya—yang kini menempatkannya di antara pencetak gol terbanyak pemain Inggris dengan 12 gol—nama Welbeck justru tak masuk radar pelatih tim nasional Thomas Tuchel.
Brighton pun tersenyum. Mereka naik ke posisi kedelapan klasemen sementara, menunggu hasil lain akhir pekan dengan penuh harap.
Sebaliknya, menukil BBC, Liverpool tenggelam dalam bayang-bayang inkonsistensi. Kekalahan ini menjadi yang ke-10 mereka di Premier League musim ini—angka yang terakhir kali mereka rasakan pada musim 2015-16.
Di Amex, bukan hanya tiga poin yang hilang. Tapi juga rasa percaya diri yang kian menipis.(maq)
