edisiana.com – Malam itu bukan sekadar kemenangan bagi Fulham. Itu adalah panggung emosi, tentang kehilangan, keteguhan, dan sebuah momen yang melampaui sepak bola. Di Craven Cottage, Raúl Jiménez akhirnya memecah kebuntuannya.
Gol dari titik putih dalam kemenangan 3-1 atas Burnley menjadi lebih dari sekadar angka di papan skor—itu adalah pelepasan beban yang ia simpan dalam diam.
Dengan ketenangan khasnya, Jiménez mengeksekusi penalti tanpa cela. Bola bersarang di gawang, dan ia langsung menunjuk ke langit dengan kedua tangan.
Sebuah gestur sederhana yang sarat makna, sebuah penghormatan untuk sang ayah, Raúl Jiménez Vega, yang wafat beberapa hari sebelumnya.
Namun emosi tak bisa dibendung. Saat berjalan kembali ke tengah lapangan, air mata mulai mengalir. Setelah peluit akhir, ia terlihat menyeka wajahnya, larut dalam momen yang begitu pribadi di tengah sorotan publik.
Rekan-rekannya segera datang menghampiri. Pelukan hangat dari sesama striker Rodrigo Muniz dan dukungan dari pelatih Marco Silva menjadi gambaran solidaritas dalam skuad Fulham—lebih dari sekadar tim, ini adalah keluarga.
Di balik emosi itu, statistik berbicara tegas. Jiménez kini telah mencetak 14 penalti dari 14 percobaan di Liga Premier—rekor sempurna yang belum tertandingi dalam sejarah kompetisi.
“Raul, sangat tenang pada saat itu, sangat kalem, dan itulah alasan mengapa dia memecahkan rekor penalti di Liga Premier,” ujar Marco Silva, manajer Fulham dinukil dari ESPN pada hari ini.
Sepak bola sering kali tentang kemenangan dan kekalahan. Tapi malam itu, di London, itu tentang hati. Tentang seorang anak yang mencetak gol—dan mendedikasikannya untuk ayahnya.(maq)
