edisiana.com – Juventus berbicara dengan cara klasik: sabar, dingin, mematikan. Di malam Eropa yang panas, Si Nyonya Tua menundukkan Benfica 2-0 lewat gol Khéphren Thuram dan Weston McKennie, keduanya lahir di babak kedua dari duel yang keras dan penuh tensi.
Benfica sebenarnya memulai laga dengan keberanian besar. Tim tamu langsung menusuk jantung pertahanan Juventus.
Serangan rapi dibangun oleh Amar Dedic, bola dialirkan ke luar kotak penalti, dan Heorhii Sudakov melepaskan tembakan ke sudut kanan bawah. Allianz? Hampir terdiam.
Namun Michele Di Gregorio tampil sigap, menepis ancaman dan menjaga gawang Juve tetap perawan.
Juventus merespons. Tak panik, tapi langsung menggigit. Kenan Yildiz mendapatkan peluang emas, sayang kiper Benfica Anatoliy Trubin berdiri kokoh dan menggagalkan peluang tersebut.
Babak pertama berakhir tanpa gol, tapi jelas: pertandingan ini belum selesai.
Usai jeda, Juventus menaikkan tempo. Weston McKennie menerobos kotak penalti dan melepaskan tembakan, lagi-lagi Trubin menjadi tembok terakhir Benfica. Namun tekanan Juve tak berhenti.
Akhirnya, kebuntuan pecah. Menit krusial. Khéphren Thuram muncul dari lini kedua dan menuntaskan peluang dengan tembakan kaki kanan dari tengah kotak penalti ke sudut kiri bawah. Gol yang meledakkan stadion. Juventus unggul, dan momentum sepenuhnya berubah.
Benfica goyah. Juventus mencium darah.
Tak lama berselang, Weston McKennie memastikan kemenangan. Berawal dari umpan Jonathan David, McKennie mengontrol lalu mengarahkan bola ke sudut kiri bawah. Klinis. Tanpa ampun. 2-0 untuk Juve.
Drama belum usai. Menit ke-81, Benfica mendapat hadiah penalti. Harapan hidup kembali? Tidak. Vangelis Pavlidis maju sebagai eksekutor, tetapi tendangannya melenceng ke kanan gawang. Peluang emas lenyap, mimpi Benfica runtuh.
Sisa laga menjadi milik Juventus.
Bertahan dengan disiplin, menutup ruang, dan mengunci kemenangan sampai peluit akhir. Juventus menang. Juventus dominan. Juventus kembali menunjukkan DNA Eropa mereka.
Di malam ini, Si Nyonya Tua mengingatkan semua orang: mereka belum habis.(maq)










