edisiana.com – Afrika memanggil, dan Akor Adams menjawab dengan gol. Dua gol cepat dalam 15 menit mengubah wajah Sevilla, menghentikan rentetan hasil buruk sekaligus mengakhiri paceklik gol yang menghantui mereka. Di Martínez Valero, penyerang asal Nigeria itu tampil sebagai penyelamat.
Sevilla akhirnya bernapas. Setelah berminggu-minggu terjebak dalam krisis, Adams muncul dengan ketegasan seorang pemburu gol. Dua sentuhan mematikan, dua gol, dan mimpi buruk tampak berakhir.
Piala Afrika seolah memberi energi ekstra: Adams bermain dengan determinasi, kekuatan, dan naluri tajam di kotak penalti.
Namun sepak bola selalu menyimpan drama. Tim tuan rumah asuhan Eder Sarabia sempat tenggelam, tapi bangkit.
Mereka bahkan unggul 2-0, sebuah keunggulan yang membuat Martínez Valero bergemuruh dan para pendukung bermimpi besar. Sevilla terlihat limbung, nyaris tumbang.
Nyaris.
Menit-menit akhir menjadi saksi runtuhnya keunggulan itu. Sevilla, dengan luka lama yang masih terasa, menolak kalah.
Gol demi gol di penghujung laga memupus kegembiraan tim Sarabia, yang harus puas dengan hasil imbang pahit—keunggulan sirna di saat terakhir.
Akhirnya, satu poin jatuh ke tangan Sevilla. Bukan kemenangan, tapi cukup untuk menghentikan perdarahan. Dan di balik semuanya, satu nama berdiri paling terang: Akor Adams.
Melansir MD, datang dari Afrika, membawa gol, dan menyelamatkan Sevilla dari malam yang nyaris kelam.(maq)











