Kisah Igor Thiago Menembus Skuad Brasil di Piala Dunia (Bagian-1)
edisiana.com – Nama Igor Thiago tiba-tiba mencuri perhatian publik sepak bola Brasil. Penyerang klub Brentford itu sukses menembus skuad timnas Brasil untuk Piala Dunia bulan depan.
Lebih mengejutkan lagi, pemain berusia 24 tahun tersebut mampu menyingkirkan sejumlah nama besar demi mendapat tempat di lini depan Selecao. Namun, jalan hidup Igor Thiago menuju panggung tertinggi sepak bola dunia sama sekali tidak mudah.
Di negeri yang menjadikan sepak bola sebagai agama kedua, Igor Thiago tumbuh seperti jutaan anak Brasil lainnya yang bermimpi menjadi pemain profesional. Inspirasi terbesarnya datang dari sang kakak, Maycon, yang usianya terpaut 15 tahun lebih tua.
Thiago lahir pada 2001 di Gama, kota satelit di sekitar Brasilia. Ia dibesarkan dalam keluarga sederhana dengan satu prinsip yang selalu ditanamkan sejak kecil: pendidikan dan menjadi pribadi baik adalah harga mati.
Namun hidupnya berubah drastis saat berusia 13 tahun. Sang ayah meninggal dunia. Kehilangan itu menjadi pukulan paling berat dalam hidupnya.
“Dia adalah segalanya bagiku. Dia selalu hadir dalam hidupku. Dia mengajariku bagaimana menjadi seorang pria dan menghargai kehidupan,” ujar Thiago dinukil dari Sport Mole.
Sosok ayah bukan hanya kepala keluarga, tetapi juga panutan terbesar dalam hidupnya. Kepergian figur tersebut membuat Thiago harus tumbuh lebih cepat dibanding anak seusianya.
Di tengah masa berduka, keluarganya juga dihantam kesulitan ekonomi. Ibunya, Maria Diva, bekerja sebagai petugas kebersihan jalanan dengan gaji minimum yang tak cukup untuk menghidupi keluarga.
Thiago mengenang masa-masa sulit ketika keluarganya kekurangan makanan, pakaian, bahkan listrik rumah sempat diputus karena tidak mampu membayar tagihan.
“Ibu saya mendapat upah minimum dan tidak mampu menghidupi empat orang. Saya mencoba membantu dengan segala cara yang saya bisa,” imbuhnya.
Realita yang dihadapi Thiago merupakan gambaran keras kehidupan banyak anak muda di Brasil. Ketimpangan sosial membuat sebagian temannya memilih jalan kriminal demi bertahan hidup.
Tetapi Thiago menolak menyerah pada keadaan. Dengan dukungan sang ibu, kakaknya Maycon, serta pelatih masa kecilnya, Sergio, Thiago memilih bekerja halal demi membantu keluarga.
Sejak remaja ia menjalani berbagai pekerjaan kasar. Mulai menjadi asisten tukang batu, pekerja kios pasar, hingga menyebarkan brosur supermarket.
Di saat bersamaan, ia tetap mengejar mimpi menjadi pesepak bola profesional. Sayangnya, perjalanan itu penuh penolakan. Uji coba demi uji coba berakhir gagal.
Namun Thiago tidak berhenti.
Kini, bocah yang pernah hidup tanpa listrik itu justru berdiri di panggung terbesar sepak bola dunia bersama tim nasional Brasil. Sebuah perjalanan dari titik nol yang membuktikan bahwa mimpi bisa bertahan, bahkan ketika hidup berkali-kali mencoba menghancurkannya.(A Rabas/Bersambung)









