edisiana.com – Kisah dongeng Bodo/Glimt terus berlanjut—dan kali ini korbannya bukan tim sembarangan. Di Lingkaran Arktik, juara Norwegia itu menambahkan Inter Milan ke dalam daftar raksasa Eropa yang berhasil mereka taklukkan.
Hasil ini membuat langkah mereka menuju babak 16 besar Liga Champions UEFA semakin nyata.
Inter datang dengan reputasi mentereng. Mereka memimpin klasemen Serie A dengan keunggulan delapan poin dan telah dua kali mencapai final Liga Champions dalam tiga musim terakhir.
Namun reputasi itu seakan membeku di tanah Norwegia. Bodo tampil berani sejak awal. Setelah 20 menit, publik tuan rumah bersorak.
Umpan tumit cerdik dari Høgh membuka ruang, bola mengalir ke Fet yang dengan tenang menuntaskannya.
Di atas lapangan buatan yang menjadi ciri khas mereka, Bodo menunjukkan bahwa determinasi bisa mengimbangi pengalaman.
Inter mencoba bangkit. Matteo Darmian, mantan bek Manchester United, hampir menyamakan kedudukan ketika sepakannya membentur tiang.
Nicolo Barella kemudian melepaskan tembakan keras, tetapi masih tepat ke pelukan Nikita Haikin yang sigap di bawah mistar.
Tekanan Inter berlanjut. Sundulan Carlos Augusto dari umpan silang Barella sempat diblok, bola liar jatuh ke kaki Esposito yang berbalik dan menembak.
Namun lagi-lagi, penyelesaian akhir tak cukup tajam untuk meruntuhkan ketenangan Bodo.
Malam itu, tiang gawang seperti menjadi sekutu tuan rumah. Lautaro Martinez juga dibuat frustrasi setelah sepakannya membentur mistar.
Di sisi lain, kiper Inter, Yann Sommer, harus bekerja keras menepis tendangan keras Høgh yang meluncur deras.
Alih-alih belajar dari peringatan itu, Inter justru kembali terpukul pada menit ke-61. Serangan balik cepat menjadi senjata mematikan.
Høgh mengirim umpan ke Hauge di sisi kiri, yang tanpa ragu melepaskan tembakan kaki kiri keras ke sudut atas gawang. Gol indah yang membuat Inter terdiam.
Ketika Inter masih mencoba mencerna ketertinggalan, Bodo memanfaatkan momentum untuk menambah luka.
Ole Didrik Blomberg mengirim umpan matang kepada Høgh yang dengan mudah menyelesaikannya menjadi gol ketiga.
Stadion bergemuruh—sebuah malam yang akan lama dikenang di utara Norwegia.
Inter, tim dengan tiga gelar Liga Champions, dibuat tak berdaya.
Sementara melansir BBC, Bodo/Glimt semakin percaya bahwa kisah mereka bukan sekadar kejutan sesaat, melainkan babak baru dalam sejarah klub.
Dongeng dari Lingkaran Arktik itu kini semakin mendekati bab berikutnya: 16 besar Liga Champions.(maq)
