edisiana.com – Celtic mengawali kiprahnya di Liga Europa dengan hasil mengecewakan. Bermain di hadapan pendukung sendiri, juara Skotlandia itu takluk 1-3 dari Ferencvaros. Lini belakang yang tampil rapuh menjadi salah satu faktor utama kekalahan tersebut.
Padahal, Celtic sempat memperlihatkan permainan menjanjikan sejak awal laga. Tim asuhan Martin O’Neill mampu memberikan tekanan dan berusaha mengendalikan jalannya pertandingan.
Namun, sejumlah kelengahan di sektor pertahanan membuat usaha tersebut berujung sia-sia.
Ferencvaros memanfaatkan celah itu untuk membuka keunggulan melalui Bamidele Yusuf. Tertinggal di kandang sendiri, Celtic berusaha merespons dan akhirnya mendapatkan hasil sesaat sebelum turun minum.
Mika Baur berhasil mencetak gol penyama kedudukan sekaligus membuat Celtic kembali percaya diri.
Sayangnya, momentum tersebut tak bertahan lama. Alih-alih mampu membalikkan keadaan, Celtic justru kembali dihukum akibat buruknya koordinasi di lini belakang.
Ferencvaros mencetak gol lagi hampir seketika setelah kedudukan menjadi 1-1. Situasi semakin sulit bagi Celtic setelah Kristoffer Zachariassen memperlebar keunggulan tim tamu.
Ferencvaros kemudian memastikan kemenangan melalui Daniel Arzani. Menariknya, pemain tersebut merupakan mantan winger Celtic.
Kekalahan ini sekaligus menjadi alarm bagi O’Neill. Celtic memang mampu menunjukkan respons setelah tertinggal, tetapi rapuhnya pertahanan membuat mereka kesulitan menjaga momentum.
Tiga gol yang bersarang di gawang sendiri menjadi bukti betapa banyak pekerjaan rumah yang harus segera dibenahi.
Apalagi, melansir BBC, tantangan berikutnya tak kalah berat. Celtic harus bertandang ke Portugal untuk menghadapi Benfica.
Jika persoalan di lini belakang tak segera teratasi, laga tersebut berpotensi kembali menjadi ujian berat bagi juara Skotlandia itu.(maq)
