edisiana.com – Lens kembali mengaum. Di Stadion Bollaert-Delelis yang bergemuruh, Les Sang et Or menjungkalkan Auxerre dengan skor tipis 1-0—cukup untuk menggusur Paris Saint-Germain dari puncak klasemen Ligue 1.
Bermain di kandang sendiri seharusnya menjadi malam yang nyaman. Tapi sepak bola jarang memberi jalan mudah. Lens harus menderita, menggertakkan gigi, dan menunggu momen emas sebelum akhirnya meledak.
Momen itu datang di menit ke-65. Wesley Said, dengan ketenangan seorang pembunuh di kotak penalti, menyambut umpan terobosan brilian Malang Sarr dan menaklukkan Donovan Leon. Satu sentuhan. Satu gol. Tiga poin yang bernilai emas.
Auxerre bertahan dengan gigih, dan Leon berkali-kali menjaga harapan tim tamu tetap hidup. Namun, takdir malam itu sudah tertulis: Lens harus menang, meski dengan cara paling menyakitkan bagi lawan.
Kemenangan ini mengantarkan pasukan Pierre Sage kembali ke takhta Ligue 1. Mereka menutup pekan ke-18 di posisi teratas, unggul satu poin dari PSG yang sempat menikmati puncak klasemen.
Menurut MD, Lens kini mencatatkan delapan kemenangan beruntun di Ligue 1—rekor baru dalam sejarah klub. Rekor lama dari tahun 1956, 1998, dan 2023 resmi dilampaui.
Dan ceritanya belum berhenti. Jika dihitung termasuk Piala Prancis, Lens telah meraih sepuluh kemenangan beruntun, termasuk kemenangan telak 3-0 atas Sochaux di babak 32 besar akhir pekan lalu.
Lens tak lagi sekadar penantang. Lens adalah ancaman nyata.Dan PSG? Mereka kini hanya bisa mengejar.(maq)
