edisiana.com – Matt Bloomfield datang membawa harapan. Dan di Stadion Kassam, harapan itu belum berubah menjadi kemenangan—tetapi juga belum mati. Oxford United harus puas dengan hasil imbang 0-0 melawan Bristol City pada Sabtu malam.
Skor kacamata yang terasa pahit, karena kemenangan sejatinya sudah di depan mata… sebelum Radek Vitek berkata tidak.
Di masa tambahan waktu, Stanley Mills lolos menerima umpan terobosan matang dari Jack Currie. Stadion menahan napas.
Tendangan dilepaskan. Gol seolah tinggal menunggu waktu. Namun kaki Vitek—kiper pinjaman Manchester United yang baru pulih dari cedera—muncul sebagai penyelamat. Blok krusial. Oxford gigit jari.
Itu bahkan hanya salah satu dari dua penyelamatan yang harus dilakukan Vitek sepanjang laga. Yang pertama? Lagi-lagi dari Mills pada menit ke-72. Selebihnya, Bristol City nyaris tak berdaya.
Tim tamu hanya mampu mencatat satu tembakan tepat sasaran sepanjang pertandingan. Upaya jarak jauh Sam Morsy di babak pertama pun tak cukup untuk menaklukkan Jamie Cumming, yang tampil sigap menjaga gawang Oxford tetap perawan.
Tak ada gol. Tapi ada fondasi. Bagi Bloomfield, ini adalah batu pertama dalam misi bertahan hidup. Clean sheet pertama setelah sekian lama menjadi sinyal bahwa Oxford belum menyerah pada nasib degradasi.
Dan ujian sesungguhnya baru dimulai.
Ini adalah laga pertama dari empat pertandingan dalam 15 hari yang bisa menentukan masa depan Oxford United. QPR, Leicester City, dan Birmingham City sudah menanti di kalender—tanpa ampun, tanpa jeda.
Meski gagal menang, Bloomfield memilih melihat sisi terang. “Saya cukup puas,” ujar sang pelatih kepada BBC.
“Tentu saya akan sangat gembira jika kami mencetak gol kemenangan di akhir laga, tapi itu tidak terjadi,” tambahnya.
Ia menutup dengan kalimat yang terasa seperti janji: “Ada banyak hal yang patut disyukuri hari ini, termasuk catatan tanpa kebobolan untuk pertama kalinya setelah sekian lama.”
Oxford belum menang.Namun mereka masih hidup. Dan di liga ini, itu sudah berarti segalanya.(maq)










