edisiana.com – Camp Nou seperti menahan napas. Bola di titik putih. Harapan di pundak bocah ajaib. Namun yang tersisa hanya desahan kecewa. Lamine Yamal gagal mengeksekusi penalti saat FC Barcelona tumbang 2-1 dari rival Catalan, Girona FC, Senin malam.
Kegagalan itu bukan sekadar momen. Itu adalah simbol. Simbol dari musim yang terkutuk dari jarak 12 pas.
Barcelona kini resmi menyandang rekor penalti terburuk bersama di LaLiga. Tiga penalti gagal dari tujuh kesempatan musim ini. Sebuah angka yang mencoreng lambang Blaugrana.
Melansir Sport Mole, tim asuhan Hansi Flick berbagi catatan kelam tersebut dengan Valencia CF, yang juga gagal tiga kali dari lima eksekusi. Titik putih yang seharusnya menjadi berkah, berubah menjadi mimpi buruk.
Bukan hanya Yamal. Sang predator pun ikut terpeleset. Robert Lewandowski menjadi aktor di balik dua kegagalan lainnya musim ini.
Pada Oktober, ia membentur tiang dalam kekalahan 4-1 melawan Sevilla FC. Desember datang, luka belum sembuh. Penalti Lewandowski melambung tinggi saat Barcelona menang 3-1 atas Atlético de Madrid.
Gol tetap tercipta. Tiga poin tetap diraih. Namun noda dari titik putih tak pernah benar-benar hilang.
Barcelona kini menghadapi pertanyaan besar: siapa algojo sejati mereka? Di bawah sorotan lampu dan tekanan tribun, Blaugrana tak hanya melawan lawan—mereka melawan diri sendiri.
Dan di LaLiga musim ini, dari jarak 12 pas, Barcelona adalah tim yang paling rapuh.(maq)










