edisiana.com – Benteng Verona runtuh. Malam yang panas dan penuh emosi di Serie A berakhir pahit bagi tuan rumah. Klub penghuni dasar klasemen itu sempat menggigit, bahkan memimpin lebih dulu, namun Bologna menunjukkan mental baja untuk pulang membawa kemenangan dramatis 3-2.
Tekanan langsung mereka lancarkan dan hasilnya datang cepat. Menit ke-13, serangan balik kilat yang digalang Antoine Bernede membuka luka pertama bagi Bologna.
Bola dialirkan ke luar kotak penalti, Gift Orban datang menyambar, dan BOOM!—tembakan keras ke sudut kanan bawah tak terbendung. Stadion pun meledak.
Namun Bologna bukan tim yang mudah runtuh. Delapan menit berselang, bola mati menjadi senjata.
Remo Freuler mengirimkan umpan akurat, Riccardo menyambutnya dengan sundulan mematikan ke sudut kiri atas gawang Verona. Skor imbang, tensi meningkat.
Verona kembali mengaum. Santiago Castro melepaskan “tendangan roket” dari jantung kotak penalti, tapi Lorenzo Montipò berdiri kokoh di bawah mistar Bologna. Momentum perlahan bergeser.
Petaka datang bagi tuan rumah. Penalti untuk Bologna. Jens Odgaard maju dengan dingin, menipu kiper, dan mengarahkan bola ke sudut kiri bawah.
Verona terdiam. Tak lama kemudian, Santiago Castro menambah luka dengan gol ketiga Bologna. 1-3. Tamparan keras.
Menjelang turun minum, Verona mencoba bangkit. Gift Orban hampir memperkecil ketertinggalan, namun Federico Ravaglia melakukan penyelamatan krusial yang memadamkan harapan sesaat.
Babak kedua adalah cerita perjuangan dan keputusasaan Verona. Tekanan demi tekanan akhirnya membuahkan hasil di menit ke-71—ironisnya lewat gol bunuh diri Remo Freuler.
Skor berubah menjadi 2-3, harapan kembali menyala. Namun waktu tak berpihak. Peluit akhir berbunyi, dan Verona kembali terkapar.
Kekalahan ini semakin memperdalam luka Verona di dasar klasemen Serie A. Sementara itu, Bologna tersenyum puas—tiga poin krusial membawa mereka naik ke posisi kedelapan, penuh percaya diri menatap sisa musim.(maq)










