edisiana.com – Sadio Mané kembali menjadi mimpi buruk Mohamed Salah. Satu gol. Satu pukulan telak.
Senegal menyingkirkan Mesir 1-0 dan melaju ke final Piala Afrika 2025, sementara harapan Salah untuk mengangkat trofi kontinental pertamanya kembali runtuh.
Tangier menjadi panggung tragedi bagi bintang Liverpool itu. Ketika laga tampak akan ditentukan oleh detail kecil, Mané muncul sebagai algojo.
Menit ke-78, bola liar di luar kotak penalti disambut tembakan rendah kaki kanan—menghantam tiang kiri dan bersarang di gawang. Tak terbendung. Tak terjangkau.
Gol itu cukup. Gol itu menentukan segalanya. Ini adalah kali ketiga Mané menundukkan Salah dalam duel internasional bertekanan tinggi.
Dua luka sebelumnya masih segar dalam ingatan Mesir: final Piala Afrika 2021 dan play-off Piala Dunia 2022, keduanya dimenangkan Senegal. Kali ini, sejarah terulang. Lagi.
Salah sebenarnya datang dengan status raja. Empat gol telah ia ciptakan sepanjang turnamen—catatan terbaiknya di Piala Afrika. Namun di semifinal ini, mahkota itu terasa berat.
Mesir tumpul. Senegal disiplin. Edouard Mendy nyaris tak tersentuh, hingga Omar Marmoush akhirnya memaksanya bekerja keras lewat tembakan jarak jauh di menit keempat masa tambahan waktu.
Terlambat. Terlalu sedikit. Senegal melangkah dengan dada membusung.
Menurut BBC, tim asuhan Pape Thiaw kini menunggu pemenang duel Nigeria vs Maroko di final hari Minggu. Sementara itu, semifinal kedua akan mempertemukan Nigeria dengan tuan rumah Maroko pada hari ini di Rabat.
Bagi Mané, ini tentang dominasi.Bagi Salah, ini tentang mimpi yang kembali pecah.Di Afrika, duel ini punya satu pemenang. Dan namanya: Sadio Mané.(maq)









