edisiana.com – Paris Saint-Germain pulang dari Stade Saint-Symphorien dengan tiga poin yang diraih lewat cara dramatis. Metz sempat memberi perlawanan, namun akhirnya harus menyerah 2-3 pada laga Ligue 1 Minggu dini hari. PSG tetap berdiri, meski datang tanpa beberapa pilar utamanya.
Luis Enrique dipaksa memutar otak. Ousmane Dembélé, Achraf Hakimi, dan Marquinhos absen karena cedera. Solusinya? Keberanian. Sang pelatih mempercayakan panggung pada dua remaja: Ibrahim Mbaye dan Ndjantou. Dan mereka membayar lunas kepercayaan itu.
Gol kedua PSG lahir dari kolaborasi bocah. Mbaye menusuk dari sisi kiri, melewati bek sayap Metz, lalu mengirim umpan silang rendah yang disambar Ndjantou dengan tendangan meluncur. Gol pertama sang penyerang muda di level senior. Momen Marca: berani, dingin, dan penuh masa depan.
Di babak kedua, giliran Doué tampil. Baru pulih dari cedera hamstring sejak Oktober, ia langsung meninggalkan jejak. Satu lawan satu, satu sentuhan cerdas, dan bola melewati kiper Metz Jonathan Fischer. Kelas tetap kelas.
PSG nyaris menambah gol lewat serangan balik cepat. Mbaye melihat bola menghantam mistar, sebelum sepakan susulan Doué ditepis dengan refleks brilian Fischer.
Metz sempat memanaskan malam lewat gol indah Tsitaishvili. Umpan satu-dua dengan Gauthier Hein diakhiri sepakan ke sudut atas gawang—mungkin gol terbaik laga ini. Sayangnya, hanya menjadi catatan estetika.
PSG bertahan hingga peluit akhir dan mengamankan kemenangan. Untuk sementara, mereka duduk di puncak klasemen Ligue 1. Namun menurut BBC, posisi itu belum aman—Lens siap merebutnya kembali jika mampu menaklukkan Nice pada Minggu.
Bagi Metz, malam itu kembali berakhir pahit. Tetap terbenam di dasar klasemen dengan 11 poin dari 16 laga. PSG melaju, Metz terpuruk. Dan para bocah Paris? Mereka telah mengirim pesan ke seluruh Prancis.(maq)











