edisiana.com – Brasil nyaris menelan kekalahan pada laga perdana mereka di Piala Dunia 2026. Beruntung, gol Vinícius Júnior mampu menyelamatkan Selecao dari kekalahan setelah bermain imbang melawan Maroko.
Vinícius tidak menampik bahwa Brasil tampil jauh dari performa terbaiknya. Bahkan, tim asuhan Carlo Ancelotti itu kesulitan mengembangkan permainan sejak menit awal.
“Kami memulai pertandingan dengan sangat buruk. Yang pasti, kami harus menguasai bola. Kami harus bergerak lebih baik,” ujar Vinícius dikutip dari ESPN pada hari ini.
Maroko lebih dulu membuka keunggulan setelah kesalahan terjadi di lini tengah Brasil.
Lucas Paquetá kehilangan kendali saat menerima umpan pendek dari Roger Ibañez. Bola kemudian membentur Bilal El Khannouss dan memantul ke Noussair Mazraoui.
Mazraoui dengan cepat mengalirkan bola kepada Brahim Díaz di lingkaran tengah lapangan. Gelandang Maroko itu lalu mengirim umpan terobosan yang membelah pertahanan Gabriel Magalhães dan Marquinhos.
Ismael Saibari berlari menyambut bola di area depan kotak penalti. Kiper Brasil Alisson Becker terlambat meninggalkan garis gawangnya sehingga Saibari dengan tenang melambungkan bola untuk membawa Maroko unggul.
Tertinggal satu gol membuat Brasil meningkatkan intensitas serangan. Hasilnya datang pada menit ke-11 setelah gol pembuka Maroko.
Vinícius melakukan kombinasi satu-dua dengan Bruno Guimarães di sisi kiri lapangan untuk membuka ruang tembak. Penyerang Real Madrid itu kemudian melepaskan sepakan kaki kanan yang tak mampu dijangkau Yassine Bounou.
Gol tersebut menjadi gol ke-10 Vinícius bersama timnas Brasil sekaligus menyelamatkan timnya dari kekalahan.
Pelatih Brasil Carlo Ancelotti mengakui anak asuhnya tampil dalam tekanan pada laga perdana. Menurut dia, faktor gugup membuat permainan Brasil tidak berkembang seperti yang diharapkan.
“Mungkin tim sedikit cemas, dan rasa gugup terasa di mana-mana. Babak kedua lebih baik, tetapi tetap sulit, dan saya yakin kami akan menjadi lebih baik,” kata Ancelotti.
Hasil imbang ini menjadi peringatan bagi Brasil untuk segera berbenah. Selecao masih memiliki pekerjaan rumah besar, terutama dalam penguasaan bola dan organisasi permainan, jika ingin melangkah jauh di Piala Dunia 2026.(maq)
