edisiana.com – Duel panas Derby Manchester ke-197 akan tersaji pada Ahad malam besok, dalam situasi yang tak biasa. Baik Manchester City maupun Manchester United tengah menjalani periode sulit, dan laga ini diyakini akan menjadi titik balik bagi salah satu dari mereka — atau bahkan keduanya.
City saat ini terdampar di paruh bawah klasemen Liga Premier, sebuah posisi yang sangat jauh dari ekspektasi bagi tim asuhan Pep Guardiola. Sementara itu, Manchester United juga belum menemukan konsistensi, dan semakin disorot usai tersingkir secara mengejutkan dari ajang piala domestik.
Sebagai tuan rumah, pendukung The Citizens berharap tim kesayangan mereka bisa mengulang performa akhir musim lalu, ketika mereka mencatat lima kemenangan kandang beruntun dan mengamankan tiket ke Liga Champions.
Namun United, yang selama beberapa musim terakhir tampil labil, justru kerap memberikan kejutan di Etihad Stadium.
Secara statistik, City memang mengungguli United dalam delapan pertemuan terakhir dengan lima kemenangan. Namun musim lalu, mereka hanya bermain imbang 0-0 di Old Trafford, hasil yang cukup mengecewakan mengingat dominasi penguasaan bola mereka.
Menariknya, United justru memiliki reputasi sebagai “pembunuh diam-diam” di markas City. Dari total 16 kekalahan kandang yang dialami Guardiola sebagai manajer City di Premier League.
Empat di antaranya datang dari Manchester United — termasuk kekalahan dramatis 2-1 musim lalu, yang dipimpin oleh penampilan gemilang Amad Diallo.
Namun secara keseluruhan, dalam 20 pertemuan terakhir kedua tim di semua kompetisi, hanya enam kali tuan rumah mampu keluar sebagai pemenang.
Ini menunjukkan bahwa keuntungan kandang tidak selalu menjadi faktor penentu dalam Derby Manchester — justru aspek emosional dan mental yang sering kali jadi pembeda.
Untuk Manchester United sendiri, tantangan semakin berat di bawah asuhan Ruben Amorim. Meski menang 3-2 atas Burnley di laga terakhir, itu hanyalah kemenangan kedelapan Amorim dalam 30 pertandingan sejak menjabat manajer — dengan empat di antaranya diraih melawan klub promosi.
Menurut Sport Mole, dalam 25 laga lainnya, Amorim hanya meraih empat kemenangan, atau sekitar 16 persen rasio kemenangan. Bahkan melawan Burnley pun, United nyaris gagal meraih tiga poin, sebelum penalti Bruno Fernandes di menit ke-97 memastikan kemenangan — yang menjadi gol kemenangan terbaru keempat dalam sejarah klub.
Derby ini bukan hanya soal gengsi dua kota besar, tapi juga pertaruhan besar bagi kedua pelatih dan klub untuk kembali ke jalur kemenangan. Dengan performa yang tak meyakinkan, tekanan besar menanti keduanya.
Apakah City bisa kembali menunjukkan dominasi mereka di kandang? Ataukah United kembali jadi batu sandungan di Etihad? Jawabannya akan terungkap pada Derby Manchester ke-197 yang dipastikan sarat emosi, drama, dan potensi kejutan besar.(maq)











