edisiana.com – Gempa mengguncang ibu kota Prancis. Paris Saint-Germain tersingkir secara memalukan di babak 32 besar Coupe de France, ditaklukkan tetangga mereka sendiri, Paris FC, lewat gol tunggal Jonathan Ikoné.
Malam yang seharusnya rutin berubah menjadi mimpi buruk bagi tim asuhan Luis Enrique.
Paris FC tampil tanpa rasa takut sejak awal. Alimami Gory sudah memberi peringatan dini dengan memaksa Lucas Chevalier melakukan penyelamatan krusial di menit-menit awal. PSG selamat—untuk sementara.
Sebagai favorit, PSG perlahan mengambil alih permainan. Vitinha nyaris membuka skor, sementara Bradley Barcola menyia-nyiakan dua peluang emas sebelum menit ke-30. Dominasi ada di tangan tuan rumah, tetapi efektivitas nihil.
Di bawah mistar Paris FC, Obed Nkambadio menjelma tembok tak tertembus. Ia menggagalkan tembakan Khvicha Kvaratskhelia dan Gonçalo Ramos di kedua sisi jeda, sementara PSG terus menggempur tanpa hasil.
Tekanan berlanjut. Zaire-Emery gagal memaksimalkan sudut sempit, Barcola tembakannya diblok, dan Ousmane Dembélé pun dibuat frustrasi oleh refleks luar biasa Nkambadio.
Bola dikuasai PSG, tapi nasib berpihak pada sang tetangga.Dan datanglah momen penentuan.
Dengan 16 menit tersisa, Paris FC mencuri bola di tengah lapangan. Ilan Kebbal, baru masuk sebagai pemain pengganti, mengirim umpan terobosan tajam dari sisi kanan kotak penalti.
Jonathan Ikoné menyambutnya dengan penyelesaian klinis. Senyap. Parc des Princes terdiam. PSG panik. Serangan bertubi-tubi dilancarkan.
Peluang Zaire-Emery nyaris menyamakan skor, sementara sepakan Désiré Doué dan Vitinha melenceng dari sasaran. Waktu habis, solusi tak kunjung datang.
Peluit akhir berbunyi. Paris FC bertahan dengan heroik dan mencetak kemenangan terbesar mereka.
PSG tersingkir. Luis Enrique terpukul.
Di Paris, malam ini, yang kecil mengalahkan yang raksasa.(maq)











