edisiana.com – Malam kelam di Turin. Emil Audero harus memungut bola dari gawangnya lima kali saat Cremonese bertandang ke markas Juventus, Senin malam waktu setempat.
Sebuah skor telak yang tak sepenuhnya mencerminkan perjuangan sang kiper timnas Indonesia, yang bahkan sempat menjadi pahlawan dengan menggagalkan penalti—meski akhirnya tetap kalah telak.
Juventus membuka pesta gol pada menit ke-12 lewat keberuntungan murni.
Tembakan jarak jauh Gleison Bremer membentur pemain Cremonese dan membuat Audero mati langkah. Bola berbelok, gawang terbuka, 1-0 untuk Si Nyonya Tua.
Belum sempat bernapas, dua menit berselang Jonathan David menghukum pertahanan Cremonese. Serangan balik kilat yang dimotori Khéphren Thuram diselesaikan dingin oleh David. Turin bergemuruh, skor berubah 2-0.
Frustrasi memuncak di kubu tamu. Pelatih Davide Nicola diusir wasit setelah berang memprotes keputusan VAR yang menolak klaim penalti untuk Cremonese. Dari situ, segalanya runtuh.
Ironisnya, justru Juventus yang mendapat penalti. Emil Audero tampil heroik, menepis sepakan Kenan Yildiz hingga membentur tiang.
Namun dewi fortuna kembali membelot—Yildiz menyambar bola muntah dan mencetak gol. 3-0 sebelum jeda. Upaya Audero sia-sia.
Babak kedua baru berjalan dua menit, Weston McKennie menambah penderitaan Cremonese. Bola yang sempat dihalau Filippo Terracciano di garis gawang malah berujung gol bunuh diri. Nasib buruk tak berhenti di situ.
McKennie kembali mencatatkan namanya di papan skor lewat sundulan jarak dekat, memastikan kemenangan besar Juventus dan menutup malam mimpi buruk Cremonese.
Bagi Cremonese, ini adalah laga keenam tanpa kemenangan. Melansir ESPN, mereka tertahan di peringkat ke-13, sementara Audero pulang dari Turin dengan kepala tegak—karena di tengah badai, ia tetap sempat menunjukkan kualitasnya.
Turin berpesta. Cremonese terluka. Dan Audero? Ia bertahan sendirian di tengah hujan gol.(maq)











