edisiana.com – Nama Cesc Fabregas kini mencuri perhatian di dunia kepelatihan setelah secara sensasional membawa Como promosi ke Serie A. Lebih dari itu, tim kejutan asal Lombardia ini bahkan mampu menembus 10 besar di klasemen sementara Liga Italia—sebuah pencapaian luar biasa bagi klub yang baru saja kembali ke kasta tertinggi.
Sebagai mantan pemain dari para pelatih legendaris seperti Pep Guardiola, Arsène Wenger, dan José Mourinho, Fabregas tentu memiliki dasar taktik yang kuat.
Namun, pria asal Spanyol ini membuktikan bahwa dirinya bukan sekadar versi reinkarnasi dari para mentornya. Ia telah mengembangkan gaya permainan sendiri, menggabungkan warisan taktik dengan sentuhan khasnya sebagai eks-gelandang kelas dunia.
Lulusan akademi La Masia ini sangat menekankan pentingnya penguasaan bola. Filosofi tersebut kini tertanam dalam skuad Como. Menurut laporan Daily Mail, Como mencatatkan rata-rata penguasaan bola tertinggi ketiga di Serie A musim ini (63 persen), hanya kalah dari Napoli dan Inter Milan.
Salah satu kekuatan utama Fabregas adalah membangun serangan melalui jalur tengah. Ia kerap menciptakan keunggulan jumlah pemain di lini tengah serta memanfaatkan pergerakan pemain ketiga—strategi yang mencerminkan pemahaman mendalamnya sebagai mantan playmaker.
Dengan menempatkan pemain teknis seperti Gabriel Paz dan Mateo Baturina di area sentral, Como tak hanya mendominasi bola, tetapi juga mampu melakukan tekanan balik secara efektif.
Ketika kehilangan bola, mereka melakukannya di area yang strategis—di mana mereka memiliki keunggulan jumlah pemain—sehingga transisi negatif bisa segera diatasi. Data menunjukkan, Como berada di peringkat ketiga dalam kombinasi tekel dan intersepsi (58), mengindikasikan bahwa sistem pressing mereka berjalan sangat efektif.
Kesuksesan ini tak luput dari perhatian klub-klub besar. Rumor mulai beredar bahwa Fabregas bisa segera kembali ke Liga Premier Inggris—liga di mana ia pernah berjaya sebagai pemain.
Meski masih berfokus pada proyeknya bersama Como, Fabregas tidak menutup kemungkinan untuk kembali ke Inggris suatu saat nanti.
“Kami bekerja dengan baik. Orang-orangnya sangat berdedikasi, para pemilik berinvestasi dengan cerdas,” ujar Fabregas dari Daily Mail pada hari ini.
“Kami semua berada di jalur yang sama, berkembang setiap minggu, mencoba menciptakan rasa kekeluargaan dan persatuan. Mari kita lihat di mana posisi kami di akhir musim.”
Fabregas bukan hanya melatih, ia sedang membangun warisan. Como mungkin baru naik kelas, tapi di tangan Fabregas, mereka terlihat seperti tim yang sudah mapan. Serie A mungkin baru langkah awal dari perjalanan panjang sang maestro di dunia kepelatihan.(maq)











