edisiana.com – Barcelona kembali menegaskan dominasinya. Blaugrana menaklukkan musuh abadinya, Real Madrid, dengan skor 3-2 dalam final Piala Super Spanyol yang mendebarkan.
Gelar ke-16 pun mendarat di lemari trofi klub Catalan—dan yang lebih penting, supremasi atas Madrid kembali ditegaskan.
Raphinha membuka pesta pada menit ke-36 dengan sepakan keras ke sudut bawah gawang. Gol yang lahir dari keyakinan dan presisi. Namun Madrid tak pernah mati. Vinícius Jr membalas dua menit memasuki injury time babak pertama.
Ia mempermainkan Jules Kounde dengan aksi brilian sebelum mengirim bola ke sudut jauh—gol pertamanya setelah 17 pertandingan puasa sejak 4 Oktober 2025.
Babak kedua baru berjalan empat menit ketika Robert Lewandowski kembali membuat Barça tersenyum.
Tendangannya membentur tiang sebelum bersarang di gawang, membawa keunggulan kembali ke tangan pasukan Hansi Flick.
Drama belum selesai. Tiga menit kemudian, Gonzalo García memanfaatkan kemelut di kotak penalti untuk menyamakan skor. Real Madrid hampir berbalik unggul saat sundulan Dean Huijsen menghantam mistar—pertanda malam penuh ketegangan.
Kontroversi pun mewarnai laga. Flick meluapkan amarahnya, merasa peluit akhir babak pertama seharusnya sudah dibunyikan lebih cepat.
Ketegangan memuncak di waktu tambahan ketika Frenkie de Jong diganjar kartu merah langsung akibat tekel keras pada Kylian Mbappé, yang baru masuk setelah pulih dari cedera lutut.
Menit-menit akhir adalah mimpi buruk bagi jantung para pendukung. Marcus Rashford menyia-nyiakan peluang emas dalam posisi bebas.
Di sisi lain, Álvaro Carreras dan Raúl Asencio hanya mampu mengarahkan tembakan tepat ke pelukan Joan García, sang tembok terakhir Barça.
Dan ketika peluit panjang akhirnya berbunyi, Barcelona berdiri sebagai pemenang. Melansir BBC, dan ini dua gelar Piala Super Spanyol beruntun—sesuatu yang terakhir kali mereka raih pada 2011.
Di Jeddah, Barcelona bukan sekadar juara. Mereka adalah raja.(maq)









